- Twitter/@PSSI
![]()
Kursi PSSI 1 kosong lagi. Sementara, Iwan Budianto yang didapuk menjadi Plt Ketua Umum. Hingga, Kongres pemilihan digelar pada Sabtu 2 November 2019
Dari dinamika yang terjadi, terlihat jelas bagaimana tidak stabilnya PSSI dalam sembilan tahun terakhir. Kondisi internal kacau. Tak tercapai stabilitas organisasi yang mendukung adanya pemantapan program pengembangan sepakbola.
Semua, hanya berfokus pada satu tujuan saja. Menguasai PSSI!
Tak sepatutnya ini terjadi. Perebutan kekuasaan di sepakbola hanya akan menjadi hambatan bagi proses pembinaan di sepakbola.
"Ada singgungan yang kencang antara sepakbola dan politik. Organisasi PSSI jadi tak stabil. Sulit dengan kondisi tersebut untuk membangun sepakbola," kata pengamat sepakbola nasional, Tommy Welly.
Dari gejolak yang terjadi sejak 2010, sudah empat kali PSSI berganti pemimpin. Catatan, itu di luar Plt yang disebutkan, macam Joko dan Iwan. Sembilan tahun, empat Ketua Umum, luar biasa bukan?
Padahal, dalam statuta disebutkan, masa bakti seorang Ketua Umum mencapai empat tahun. Jadi, seharusnya baru ada tiga Ketua Umum di PSSI sampai sekarang. Namun, ini sudah ganti sampai empat kali, dan menuju lima.
PSSI terlalu sering ganti ketua umum. Sedangkan prestasi sepakbola Indonesia bak alami jalan buntu. Kuldesak.
Tapi, di sisi lain, fenomena ini membuktikan, PSSI memang seksi. Seperti seorang wanita yang jadi bahan rebutan.
"Normal, ini olahraga nomor satu di Indonesia. Jadi, banyaknya orang yang mau duduk di sana. Tapi, apakah calon Ketua Umum nanti punya kapabilitas?" ujar Towel (sapaan akrab Tommy Welly).
Senada dengan Towel, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute, Karyono Wibowo, menyatakan posisi di PSSI 1 memang begitu strategis.
CV sejumlah pihak akan semakin cantik jika di dalamnya tercantum status "Ketua Umum PSSI" dalam periode tertentu. Dengan status tersebut, kredibilitas sejumlah pihak bisa terangkat.
Daya jual mereka juga akan meningkat dan membantu dalam upaya menduduki kursi tertentu di ranah politik dan lainnya.
"Saya kira memang cukup seksi untuk diperebutkan. PSSI, PBSI, atau organisasi keolahragaan macam KONI, dan lainnya, memang cukup seksi diperebutkan. Ada beberapa alasan. Pengabdian, eksistensi, dan lainnya. Jika memimpin PSSI, maka orang itu bisa terus eksis. Tapi, bisa juga soal ekonomi atau pendapatan. Saya tak tahu persis gaji pengurus PSSI, tapi paling tidak itu bisa jadi alasannya," ujar Karyono.