- Twitter/@PSSI
Maka dari itu, uang saja tak cukup. Serius dan ikhlas jadi dua hal wajib untuk sepakbola Indonesia.
"Saya berharap, siapa pun yang terpilih tak terkontaminasi kepentingan politik. Terang-terangan, ada juga yang memanfaatkan posisi ini sebagai kendaraan politik dan pribadi. Berkaca pada pengalaman sebelumnya," ujar salah satu calon Ketum, Yesayas Oktavianus.
"Orangnya harus tepat. Harus paham sepakbola. 30 tahun sudah, saya di sepakbola. Persija 20 tahun, dan Asprov selama 10 tahun. Jadi, harus orang yang tepat mengisi posisi itu," timpal calon Ketum lainnya, Benny Erwin.
KP Jadi Sentral
Mencari Ketum bersih sebenarnya berawal dari Komite Pemilihan. Proses seleksi sudah seharusnya ketat.
Sebab, dari sinilah, calon Ketum bisa dinilai layak atau tidaknya. Data yang diterima VIVAnews dari KP, sebanyak hampir 50 orang mendaftarkan diri menjadi calon Ketum.
Namun, hanya 11 yang akhirnya mengembalikan berkas dan diverifikasi oleh KP. Delapan dari 11 calon Ketum yang mengembalikan berkas, dinyatakan lolos.
Tiga lainnya sempat tak diloloskan. Selanjutnya, mereka melakukan proses banding. Dan, ketiganya lolos.
"Jumlah pendaftar melebihi ekspektasi, banyak sekali. Kalau tak salah, hampir 50 orang. Tapi, karena yang mendaftarkan lewat dari batas waktu, kami voting bisa diterima atau tidak," terang Ketua KP, Syarif Bastaman.
Sebenarnya, tantangan KP begitu besar. Mereka diharuskan menyeleksi calon Ketum yang benar-benar memenuhi syarat aktif di sepakbola, minimal selama lima tahun.
Dari calon-calon yang ada, beberapa di antaranya diragukan. Sebab, namanya jarang atau bahkan tak pernah terdengar di sepakbola nasional.
Mochamad Iriawan alias Iwan Bule contohnya. Banyak yang tak tahu kiprahnya di sepakbola.
Namun, Iwan menegaskan, akrab dengan sepakbola. Saat masih muda, Iwan mengungkapkan pernah bermain untuk Persib junior. Pun, saat menjabat sebagai perwira polisi, Iwan mengaku sempat berada di jajaran kursi penasihat Bhayangkara FC.
![]()
"Hanya saja, peran saya di sepakbola tak pernah terekspose ke media," ujar Iwan.
"Pernah ada yang aktif mengurus klub sepakbola, itu termasuk. Atau, di Asprov. Ada 966 anggota, terpenting aktif mengurus mereka. Termasuk, soal jadi pembina atau penasihat," terang Syarif, mengomentari situasi yang dialami beberapa kandidat.