Nasib Keraton 'Pelat Merah'

Para abdi dalem Keraton Solo.
Para abdi dalem Keraton Solo.
Sumber :
  • VIVA/Fajar Sodiq (Solo, Jawa Tengah)

VIVA – Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI tentu tidak lepas dari peran serta kerajaan-kerajaan atau keraton-keraton yang ada di seluruh wilayah Nusantara. Sebagai negara kepulauan, hampir di seluruh wilayah terdapat banyak kerajaan berpengaruh di Nusantara. Kerajaan-kerajaan itu sudah tentu memiliki wilayah yang cukup beragam, sehingga keberadaannya memiliki pengaruh politik, ekonomi, sosial dan budaya terhadap perkembangan peradaban manusia di Nusantara. Bukan hanya itu, pengaruh kekuasan atau politik yang dimiliki para kerajaan itu konon berpengaruh kuat terhadap diplomasi kemerdekaan Republik Indonesia terhadap penjajah kala itu.

Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nasional (FSKN), Sultan Sepuh XIV Cirebon, PRA Arief Natadiningrat mengatakan, jauh di masa prakemerdekaan Republik Indonesia ratusan kerajaan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara memiliki kontribusi besar terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia menuturkan, setidaknya ada beberapa kontribusi besar yang dilakukan oleh keraton-keraton di seluruh Nusantara dalam proses memerdekaan Indonesia. 

Bangunan peninggalan-peninggalan Kesultanan BantenBangunan peninggalan Kesultanan Banten

Para Raja atau Sultan yang saat itu memiliki pengaruh politik di wilayahnya memiliki andil dalam melakukan perjuangan diplomasi dengan para penjajah asing yang berusaha menguasai Indonesia ketika itu. Bahkan, tidak sedikit dari kerajaan atau keraton itu ikut terlibat dalam perang fisik melawan kolonial Belanda. Kerajaan yang memilih jalur perang fisik antara lain, Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), Pangeran Diponegoro (Jawa Tengah), Sultan Hasannuddin (Makassar), dan Pangeran Antasari (Kalimantan).

"Di kita juga ada, Sultan Sepuh Cirebon V, Matangaji. Sampai dalam sejarah ditulis bahwa Belanda itu menyebut Sultan Sepuh Matangaji itu sebagai Sultan Gila. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh keraton yang lainnya yang ikut serta dalam perlawanan secara fisik," kata PRA Arief Natadiningrat kepada VIVAnews, Selasa, 21 Januari 2020.

Sampai pada Indonesia merdeka tahun 1945, lanjut Arief, kontribusi kerajaan atau keraton di Nusantara tidak berhenti sampai di situ. Sebagai bangsa yang baru berdiri dan menyatakan kemerdekaannya, Indonesia sudah barang tentu tidak memiliki kekuatan ekonomi yang memadai. Sehingga, tidak sedikit pula raja-raja atau sultan-sultan yang ada ketika itu menghibahkan tanah atau harta kekayaannya untuk dikelola negara atau pemerintah Indonesia. 

"Misalnya di Kalimantan, keraton di sana kan punya lahan luas, ada yang menghasilkan gas, minyak, mineral, emas, dan masih banyak lagi sumber daya alam yang diberikan kepada bangsa ini, untuk membiayai Republik Indonesia ini. Begitu juga di Riau, Sumatera, dan lain sebagainya. Artinya peran keraton-keraton ketika itu juga banyak yang membantu dengan cara memberikan harta kekayaannya untuk para pejuang kemerdekaan," ujarnya menambahkan.