- VIVAnews/Fajar Sodiq
Pada 2008 datang peneliti dari Surabaya dan Bandung membawa sejumlah peralatan deteksi sumber air. Termasuk tukang bor, yang siap melaksanakan pekerjaan.
Hasilnya, setelah dilakukan pengukuran, ditentukan titik lokasi yang harus dibor, tepatnya di seberang jalan depan rumah Nito. Para peneliti menyebut, di kedalaman tanah sekitar 130 meter dengan batuan cadas itu terdapat sumber air. Awalnya gagal, namun setelah dilakukan pergeseran ke sisi timur dari titik awal, sumber air akhirnya didapat.
“Kami sangat gembira, sampai-sampai kita (warga) bernazar dan dilaksanakan. Air tersebut kita panteng sampai sehari penuh, dan warga bebas mengambil sepuasnya,” tutur Nito.
Seiring berjalannya waktu, Nito dan beberapa warga mengatur penggunaan air. Warga dengan biaya sendiri diminta memasang meteran di rumahnya masing-masing, termasuk menyediakan pipa saluran dari sumber air ke rumahnya.
Sementara, di lokasi sumber dipasang pipa penyedot air berukuran besar.
Tercatat, ada 600 Kepala Keluarga (KK) dari jumlah 900 KK yang sudah menikmati saluran dari sumber air ini.
Tiap KK dipatok harga beli Rp2.500 untuk pemakaian air tiap meter kubik. “Uang iuran itu untuk kas, digunakan untuk bayar listrik, yang setiap bulan Rp4 juta, dan keperluan lain, termasuk mengganti pipa jika ada yang bocor atau mampet akibat tersumbat lumpur,” urai Nito, yang dibenarkan oleh Kepala Desa Dusun Manduro, Kecamatan Kabuh, Jamilun.
Walaupun sejak itu warga bisa bernapas lega mendapatkan air, tapi kendala lain masih terjadi. Mulai dari listrik yang kerap padam, ukuran pompa air yang kurang kuat hingga mengganggu penyedotan air, sampai endapan lumpur di pipa yang kerap menyumbat.
Kemudian, di tahun yang sama, setelah didatangi petugas dari Jakarta, menyusul datang bantuan sebesar Rp300 juta, dari APBD. Itu dipakai untuk membuat kolam penampungan air. Bak air berbentuk kubus berukuran tinggi 2 meter dan lebar 3 meter itu sebelahnya dibuatkan ruangan berpintu untuk pompa air.
“Akhirnya, dengan rembuk warga kita bentuk pengurus. Sumber airnya diberi nama ‘Sumber Lestari’ oleh Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM),” ujar Nito.