- VIVAnews/Fajar Sodiq
“Biasanya kami membuatkan surat pengajuan permintaan air bersih kepada pemda maupun lembaga non pemerintah. Ini upaya kami untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat miskin di Paranggupito,” tuturnya.
Sementara, Pemerintah Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, DIY terpaksa "mengimpor" air bersih dari wilayah Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Untuk melakukan dropping air ke warganya, pemerintah kecamatan Girisubo, Gunungkidul, DIY, harus membeli air dari wilayah tersebut karena minimnya sumber air.
"Kami terpaksa membeli air bersih dari wilayah Pracimantoro karena sumber air di Kecamatan Girisubo tak layak konsumsi," kata Kasi Kesejahteraan Sosial kecamatan Girisubo, Sunardi.
Pembelian air ke luar wilayah dilakukan untuk memberikan bantuan kepada delapan desa di wilayah Girisubo, yang pada musim kemarau saat ini sudah dilanda kekeringan. Pemberian bantuan dilakukan secara bergilir.
Untuk dropping air selama 2014, kecamatan Girisubo menganggarkan Rp100 juta, dan saat ini sudah menghabiskan 55 persen dari total anggaran. Adapun anggaran tersebut digunakan untuk membeli air, operasional tangki, dan membayar sopir serta kernet.
“Kita menggunakan sopir dan kernet dari luar pegawai karena keterbatasan orang,” ucapnya.
Sebenarnya wilayah Girisubo sudah ada pipanisasi sejak beberapa tahun lalu, namun sampai sekarang tidak ada kelanjutannya. Sehingga pipa yang sudah merata di hampir setiap desa praktis hanya menjadi monumen.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial DIY, terkait masalah pipa yang sampai sekarang belum bisa digunakan,” katanya. (ren)