- VIVAnews/Fajar Sodiq
Tidak warga Dusun Manduro, dusun tetangga juga boleh ikut menikmati sumber air tersebut dengan tarif yang sama. Diantaranya warga Dusun Karang Pakis, Pengampon, Gesing, Dander, Matok’an dan Dusun Guwo.
Kekompakan warga berbuah manis. Kini dari sumber air milik alam tandus dan kering di Pegunungan Kecamatan Kabuh itu, menyimpan uang kas yang tak sedikit. “Kas kita sekarang tercatat ada Rp100 juta lebih,” ungkapnya.
Uang itu, selain untuk membeli kebutuhan pengairan ke rumah warga yang rusak juga dipakai untuk keperluan lain, jika ada persetujuan warga. Lelaki itu menyebut, tahun lalu dikeluarkan sebagian untuk biaya renovasi pembangunan balai desa.
Meski lega memiliki sumber air dan bak penampungan air. Warga setempat masih dihadapkan dengan sejumlah kendala. Jika air mampet di saluran penghubung ke rumah warga, harus dicari pipa yang tersumbat, terpaksa harus dipotong dan disambung lagi.
Juga ukuran pipa yang saat ini dipakai masih terlalu kecil, yakni 2 dim. Menurut mereka seharusnya 3 dim.
“Pipa yang tersumbat harus dipotong, kita bersihkan dengan menjulurkan besi panjang, untuk mengeluarkan lumpurnya. Kalau listrik padam, sumbatan lumpur halus berwarna emas itu mengeras,” urai Nito.
Lainnya, warga masih terkendala dengan kejernihan air. Saat baru keluar, air memang sangat jernih, kemudian setelah di penampungan air mulai menguning dan ada zat kapur lembut seperti lumpur berwarna kuning.
“Itu yang kita belum bisa atasi. Mudah-mudahan, dengan kedatangan sampeyan ke sini, pemerintah mau mendengar keluhan ini,” ucapnya.
Nito juga mengaku, belum pernah ada pejabat, apalagi gubernur yang mendatangi wilayah pemukiman yang mandiri itu.
Pejuang Air
Panas terik tak menyurutkan niat puluhan warga, yang sebagian besar adalah para wanita, untuk berdesakan dalam antrean. Para ibu dan remaja perempuan tampak berebut menempatkan jeriken di ujung terdekat dengan selang tangki air milik PMI yang diparkir tak jauh dari rumah warga.
Sejumlah jeriken berderet rapi, menunggu kucuran air masuk ke dalamnya. Setelah terisi penuh, mereka dengan sigap mengambil jerikennya untuk dibawa pulang.