SOROT 309

Selamat dari Maut Kekeringan

Kekeringan Wonogiri Sorot
Sumber :
  • VIVAnews/Fajar Sodiq

Tak ada biaya untuk pompa air kala itu. Distribusi air memanfaatkan sistem gravitasi. Satu rumah bisa membayar Rp25 ribu jika menghabiskan banyak air.

img_title Habiburokhman Pastikan RUU Perampasan Aset Rampung Desember 2026

Alat meter air sederhana dipasang untuk mengukur debit air yang digunakan di setiap rumah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mirisnya, saat teknologi dan perekonomian di Singosari semakin membaik dan kemudahan sumber air didapat, pipa sambungan yang diperuntukkan warga mengalirkan air ke rumah masing-masing, malah dicuri.

img_title Ormas MKGR Peduli Salurkan Ribuan Sembako hingga Air Bersih untuk Korban Gempa NTT

"Sudah tiga kali (dicuri). Terakhir dua tahun lalu. Sampai sekarang belum kami pasang lagi,” ujar Kusnan.

Kusnan mendengar kabar bahwa desanya akan mendapat bantuan dari BPBD untuk pipanisasi yang aman. "Agar tidak diambil pencuri lagi. Sampai sekarang kami masih menunggu,” lanjut dia.

img_title Respons Rencana Aksi AMPB di DPR, BEM se-DKI Dorong Pendekatan Dialogis

Warga pun terpaksa kembali mengandalkan tandon sumber air Tretes. Meskipun harus antre berjam-jam namun jaraknya relatif lebih dekat ketimbang harus berjalan 1 km naik bukit ke Dusun Banyol.

Sayangnya, Sumber Tretes kini tak lagi bersahabat seperti puluhan tahun lalu. Sejak tahun 2010 tandon selalu kering jika musim kemarau tiba, sebab hutan di atas bukit gundul. Pohonnya diganti tanaman jagung dan singkong.

"Yang menebang pohon ya orang sini, sebagian orang luar,” kata Islamiyah, warga setempat.

Akibatnya hampir setiap Agustus hingga Oktober kekeringan melanda Blandit. Tak jarang kekeringan bahkan berjalan hingga Desember.

Daerah lainnya yang mengalami bencana kekeringan adalah Kecamatan Paranggupito yang terletak paling selatan di Kabupaten Wonogiri. Wilayah yang berbukit dan jauh dari perkotaan, menjadikan Paranggupito sulit terjangkau aliran air dari PDAM.

Katino, warga setempat, menyebut kebutuhan air sehari-hari saat musim hujan biasanya dibantu oleh satu-satunya waduk di desa itu, yakni Waduk Kedungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Waduk itu biasanya digunakan untuk mandi. Namun, saat musim kemarau, penampungan air itu seperti waduk mati. Hanya tersisa air keruh yang sudah berwarna hijau. Itu pun tetap digunakan oleh sebagian warga untuk mandi.

“Lha, mau bagaimana lagi, wong air juga sulit. Airnya sudah kayak cendol dan berwarna hijau. Biasanya yang masih mandi di waduk kecil itu para orang tua, “ tutur Katino.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut