SOROT 360

Jutaan Rupiah dari Mengaspal

Ilustrasi ojek online.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

VIVA.co.id - Sore itu, cuaca cerah. Jarum jam menunjuk pukul 16.12 WIB. Suasana di salah satu kompleks perumahan di pinggiran Bogor itu tampak sepi.

Seorang perempuan duduk di teras rumah yang tidak begitu besar. Jemarinya sibuk memainkan telepon pintarnya. Sesekali, tatapan matanya mengarah ke jalan.

Dari kejauhan, terdengar sayup-sayup deru mesin sepeda motor. Tak berselang lama, sebuah sepeda motor dengan pengemudi berjaket hijau dan helm berwarna senada berhenti persis di depan rumah perempuan itu.

Sedikit bercakap, perempuan itu menerima masker dan helm dari pengemudi, yang kemudian diketahui sebagai ojek berbasis online.

Fenomena ojek berbasis online beberapa bulan belakangan ini kian marak. Di saat jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari, hampir bisa ditemui ojek dengan jaket hijau dan hitam melintasi jalan raya. Ada Gojek dan GrabBike.

Ojek berbasis online seperti sudah bukan lagi gaya hidup warga kota besar. Bahkan, salah satu startup, yakni Gojek, sudah merambah ke Bandung, Surabaya, dan Bali. Ekspansi serupa bisa jadi juga dilakukan pemain sejenis di bidang jasa itu.

Pembeda Gojek dengan ojek konvensional, bukan hanya dari jaket dan helm pengemudi yang seragam. Setidaknya, empat hal jadi ciri pembedanya.
Pertama, cara pemesanannya cukup mudah. Hanya dengan menggunakan aplikasi Gojek Mobile.

img_title 11 Taksi Grab, Uber dan Gocar Dikandangkan Dishub

Calon penumpang cukup melakukan order secara online. Aplikasi tersebut bisa dengan mudah diunduh dari App Store untuk iOS atau Google Play bagi Android.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedua, tidak ada lagi transaksi tawar-menawar tarif antara calon penumpang dan pengemudi. Jarak tempuh dan harga yang akan dibayarkan penumpang terlihat jelas di layar setelah memilih tempat penjemputan dan tujuan pengantaran. Ketiga, tidak ada transaksi tunai antara penumpang dan pengemudi.

Pembayaran dilakukan dengan cara memotong saldo didompet Gojek yang terlebih dahulu dimiliki pelanggan. Terakhir, dengan mengakses aplikasi di ponsel pintar, calon penumpang juga bisa mengetahui keberadaan tukang ojek pesanannya yang terpantau melalui GPS.

Model bisnis jasa transportasi beroda dua dan juga terdapat taksi online ini memang sedang marak beberapa bulan terakhir.

Head of Marketing Grab Taxi Indonesia, Kiki Rizki, mengatakan, untuk kota yang padat dan lalu lintasnya macet, bisnis ojek online ini tentu besar peluangnya. Melalui ojek online, pengguna diuntungkan, karena ada perkiraan biaya, sehingga tidak perlu tawar-menawar lagi. Selain itu, ada perlindungan asuransi kecelakaan.

GrabBike berdiri sejak 2012, diawali dengan taxi on demand bernama MyTeksi di Malaysia. Peluang pasar yang besar di kawasan Asia Tenggara menjadi pertimbangan untuk menyediakan layanan taksi yang cepat, dapat diandalkan, serta berbasis pendekatan value for money.

"Para pendiri merasakan pentingnya kenyamanan dan keselamatan berkendara bagi keluarga, teman, dan kerabat tercinta mereka," ujar Kiki dalam keterangan tertulis kepada VIVA.co.id, Jumat 4 September 2015.

Tidak hanya taksi, GrabBike juga melayani jasa transportasi beroda dua. Untuk layanan ojek online ini, GrabBike, sebelumnya sudah ada di Vietnam. Sementara itu, selain di Malaysia, Grab Taxi juga ada Singapura, Vietnam, Thailand, dan Filipina.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Risma: Transportasi Online Jangan Dipermasalahkan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut