- VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
VIVA.co.id - Hari masih pagi. Jarum jam masih menunjuk pukul 10.00 WIB. Namun, keramaian sudah tampak di rumah almarhum Salim. Belasan orang terlihat keluar masuk rumah berdinding putih yang terletak di Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur ini. Sementara itu, puluhan polisi tampak berjaga-jaga di sekitar rumah.
Rumah berukuran 4x4 ini tak pernah sepi sejak media massa ramai memberitakan pembantaian pria yang akrab disapa Salim Kancil tersebut. Belasan orang dari beragam latar belakang, silih berganti menyambangi rumah yang tak seberapa besar ini. Tijah, istri almarhum, tak lelah menjelaskan perihal sosok suaminya dan bagaimana dia menemui ajal.
Tijah menggunakan salah satu ruang di rumahnya untuk menerima para tamu. Tak ada meja dan kursi di ruangan yang berbentuk L ini. Hanya ada tikar yang digelar.
Namun, itu tak menyurutkan semangat para tamu yang datang. Di ujung ruangan ada sebuah televisi tabung yang terus memutar tayangan salah satu televisi berita nasional, yang rutin menyiarkan kasus pembunuhan Salim Kancil.
Abdul Hamid, salah satu anggota Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir Desa Selok Awar-Awar menemani Tijah. Ia seolah menjadi juru bicara keluarga dan menjadi penunjuk jalan bagi tamu yang masih awam terkait kasus pembunuhan Salim dan penganiayaan Tosan. Juga, terkait latar belakang kasus tersebut.
Safari dan Mulyadi, kerabat Salim yang sempat menerima ancaman pembunuhan juga tampak di antara mereka.
![]()
Istri Salim Kancil (kanan) menemui para tamu di rumahnya. Foto: VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
Kematian karena Menolak Tambang
Tragedi kematian Salim Kancil masih segar dalam ingatan S. Warga yang mengurus ternak Salim ini tak lupa, bagaimana Salim diseret dan disiksa.
Kala itu, dia sedang sibuk dengan kambing dan sapi milik Salim yang diikat di halaman belakang rumah Salim. Sementara itu, Tijah sedang mencari rumput untuk pakan ternak.
“Tijah sudah keluar mencari rumput sebelum saya tiba,” kata S kepada VIVA.co.id, Rabu 30 September 2015.
Ketika menuju rumah Salim, S melihat tuannya sedang diseret beramai-ramai. “Salim tangannya dipegang banyak orang. Yang lain bergantian memukuli, ketika saya dekati, Salim bilang, nitip anakku, aku akan mati hari ini,” kata S menirukan pesan Salim.
Karena takut akan keselamatan dirinya, S bersembunyi di tepian sungai dan tidak mengikuti rombongan orang yang membawa Salim. “Saya kan masih saudara Pak Salim. Saya juga takut. Jadi, saya pulang ke rumah Salim dan langsung ke sungai,” ujarnya mengenang.
Salim digelandang ke Balai Desa Selok Awar-Awar dan disiksa di sana. Ia terus dipukuli dengan kondisi tangan terikat. “Waktu rekonstruksi, Salim disetrum kemaluannya. Dipukul pakai batu di seluruh badannya,” kata Tijah dengan suara lantang.
Usai disiksa beramai-ramai, jasad Salim yang masih bernapas dibawa ke jalan sepi dekat tempat pemakaman umum setempat. Di sana, di tengah hutan jati, Salim masih dipukuli bertubi-tubi dengan batu hingga meregang nyawa. Kemudian, jasad Salim dibiarkan begitu saja, teronggok di tengah jalan.