- VIVAnews/Fernando Randy
Sedangkan bahasa Jawa penuturnya sangat hebat dan loyalitas tinggi. Banyak rekonstruksi pakai bahasa jawa.
"Tetapi potensi untuk punah ada kalau transmisi tidak berjalan. Itu memerlukan sekian generasi. Dua sampai tiga generasi bisa punah,” tutur Obing.
Meski banyak penutur, bukan berarti bahasa Jawa dan Bali tidak terancam punah. Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sugiyono, menyatakan jika tidak ada satupun bahasa yang luput dari kepunahan.
Hanya saja waktu yang menentukan. Dia meyakini hal ini karena saat ini banyak generasi muda yang sudah tidak lagi bisa berbahasa Jawa. Seperti halnya Alkeys dan Daniel yang tinggal di Surabaya.
Pengingat Identitas
Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah melalui Kemendikbud merencanakan konservasi dan revitalisasi bahasa daerah. Selain berupaya menambah jumlah pengguna dan frekuensi penggunaan, ujar Sugiyono, pemerintah juga akan melakukan pendokumentasian kekayaaan bahasa daerah.
Selain di Jakarta, mereka mengaku telah memfasilitasi revitalisasi dan konservasi di Padang dan Toraja.
“Kami melakukan penelitian, pencatatan, penyusunan kata dan tata bahasa, sehingga kalau punah, kita punya data dan rekamannya. Kedua, menyangkut transmisi ke generasi muda," kata Sugiyono.
Memang sudah ada muatan lokal di sekolah, tapi ternyata itu tidak efektif karena hanya mengejar nilai, tidak terbawa sampai lingkungan.
Makanya kami revitalisasi lagi, agar muatan lokal bahasa daerah diterapkan dari sekolah di kehidupan sehari-hari. Salah satunya melibatkan orang tua di rumah. Itu yang kita lakukan dua tahun belakangan ini,” papar Sugiyono.
Sedangkan LIPI mengaku telah bekerja sama dengan Pemda setempat untuk membuat dokumentasi digital berupa perekaman audio visual yang salah satunya akan berakhir menjadi kamus bahasa dan budaya. Mereka juga telah membuat sanggar bahasa dan budaya di masing-masing wilayah yang bahasanya terancam punah.
Salah satu yang sudah dijalankan adalah sanggar bahasa Pagu di Halmahera Barat, didukung ketua adatnya yang sangat aktif meskipun perempuan, serta perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut.
Sayangnya, menurut pegiat bahasa daerah, Awaludin Rusiandi, upaya pemeliharaan bahasa daerah belum maksimal, apalagi dalam pelajaran Muatan Lokal. Menurut Awaludin, upaya pemeliharaan bahasa daerah harus dilakukan tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga masyarakat.