- VIVAnews/Fernando Randy
Dalam publikasi yang didukung pemerintah Norwegia itu menyebutkan ada 3.000 bahasa di dunia yang terancam punah. Lebih dari 100 bahasa terancam punah berasal dari Indonesia, dan puluhan lainnya (di Indonesia) masuk kategori ‘punah’.
Namun, Pusat Pengembangan Perlindungan Bahasa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mensinyalir, dari 700 bahasa di Indonesia, yang tersisa hanya sekitar 10 persen dalam beberapa puluh tahun mendatang. Tepatnya hanya sekitar 70 bahasa yang masih eksis.
Namun, yang perlu diperhatikan serius saat ini, kata Kisyani, ada bahasa yang digunakan oleh beberapa suku terasing dan terancam punah. Seperti bahasa orang laut, Punan, Taijo, To Seko, Tugutil, Marobo, Bahaam, Arfak, Bauzi, Mek, Dani, Arso, Senggi, Asmat, Enggano, Mentawai, dan Sakai.
Faktor Penyebab
Banyak faktor bahasa daerah terancam punah. Tapi, jelas Kisyani, yang paling mengemuka ialah adanya sikap negatif yang menganggap bahasa lain diasosiasikan lebih maju dan modern. Dalam hal ini, faktor lingkungan mempengaruhi.
Selain itu, terang Kisyani, menyangkut ketidaklancaran transmisi bahasa ibu atau daerah. Itu terjadi karena beberapa hal seperti perpindahan penduduk (emigrasi, transmigrasi); sikap bahasa yang negatif; penjajahan (daerah dan atau budaya); kawin campur; diskriminasi kultural; peperangan; pendidikan (tekanan dari sekolah); dan wabah penyakit.
Obing setuju dengan pendapat ini. Dalam penelitiannya selama 10 tahun ditemukan banyak wilayah, terutama di Indonesia Timur yang bahasa daerahnya tidak ditransmisikan dengan baik.
Balik lagi penyebabnya adalah kurangnya jumlah penutur. Misalnya, bahasa Kui di Alor, NTT yang penuturnya hanya 833 orang. Padahal maksimal seharusnya sekitar 4.000 penutur.
Bahasa Kui memiliki nasib yang sama dengan Kapua, Kao di Halmahera, Pagu di Halmahera Barat dan bahasa Kisar di pulau Kisar. “Kalau dikategorikan, semuanya masuk kategori terancam punah,” ujar peneliti berkacamata itu.
Berbeda dengan bahasa Jawa dan Bali yang masih bisa bertahan jangka panjang. Obing memperkirakan, bahasa Jawa masih dalam batas aman dari kepunahan karena penuturnya lebih dari 70 juta orang. Demikian juga dengan Bahasa Sunda dan Bali yang masih memiliki puluhan juta penutur.
“Dari hasil penelitian, bahasa Bali memiliki kesatuan dengan budaya dan agama. Itu memungkinkan bertahan jangka panjang. Bahasa bisa masuk ke dalam roh kebudayaan dan agama itu, menyatu, sangat langka," kata Obing.