Riyadi dan karyawan lainnya mungkin masih lebih beruntung. Karena, perusahaan tempatnya bekerja belum berencana merasionalisasi karyawannya. Meskipun, pencapaian kinerja perseroan itu juga diikuti dengan langkah efisiensi.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, mengatakan, di tengah situasi yang sangat menantang, hingga akhir Oktober 2015, perseroan melakukan efisiensi sebesar US$1,27 miliar.
Dampak penurunan harga minyak berimbas pada kinerja keuangan perusahaan yang membuat keuntungan Chevron semakin kecil.
Namun, kondisi berbeda dialami PT Chevron Pacific Indonesia. Tersiar kabar, karyawan perusahaan minyak asal Amerika Serikat itu resah. Perusahaan mengajukan pengurangan 25 persen jumlah karyawannya, atau sekitar 1.750 dari 7.000 karyawannya di Indonesia, kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Â
Safriza Rafi, karyawan Chevron, mengatakan, dampak penurunan harga minyak telah berimbas pada kinerja keuangan perusahaan. Keuntungan Chevron semakin kecil dan sejak harga minyak merosot tajam tahun lalu, perusahaan telah melakukan efisiensi anggaran.
Ia bercerita, dulu ketika pelemahan harga minyak dunia belum menghantui dunia migas, karyawan Chevron menikmati berbagai fasilitas, seperti mengoperasikan sendiri pesawat Fokker 100. Pulang-pergi dua kali sehari, rute Halim Perdana Kusuma ke Pekanbaru dan Dumai, untuk perjalanan dinas.
Lalu, ada juga layanan taksi gratis untuk sarana transportasi di area kerja. Kini, Chevron mengurangi perjalanan dinas ke luar kota.
"Dulu, obat-obatan yang diberikan untuk fasilitas kesehatan kami adalah obat-obatan paten atau bermerek. Sekarang, obat-obatan yang diberikan adalah obat generik," kata pria yang sudah bekerja di Chevron selama 25 tahun itu.
Safriza saat ini menjabat sebagai Coordinator Contract Administration and Management Facility Engineering-Sumatera Light Operation Chevron Indonesia. Dia juga menjabat sebagai ketua umum Federasi Serikat Pekerja Migas Indonesia Kawasan Barat.
Tak hanya pengurangan karyawan, Chevron, dia melanjutkan, juga membentuk tim transformasi pada kuartal III-2015. Upaya itu untuk mengantisipasi penurunan harga minyak dunia dan penyesuaian terhadap biaya-biaya.
Salah satu desain tim itu adalah membuat struktur organisasi baru yang bermuara kepada rasionalisasi pekerja untuk merampingkan struktur perusahaan.
Safriza mengatakan, dengan organisasi ini, perusahaan menerapkan sistem Work Force Management (WFM) yang terdiri atas tiga tahapan. Pertama, perusahaan menawarkan paket pengunduran diri suka rela sejak 29 Januari 2016. Karyawan diberikan waktu hingga 26 Februari 2016 untuk menerima atau menolak paket ini.