Produksi minyak Amerika Serikat naik 7,8 juta barel pekan lalu menjadi 502,7 juta barel. Sementara itu, pasokan minyak negara-negara pengekspor minyak (OPEC) melonjak pada Januari menjadi 32,6 juta barel per hari dari 32,31 juta barel per hari pada Desember 2015
Pengamat Perminyakan dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, memperkirakan harga minyak menyentuh level terendahnya, US$26 per barel, pada tahun ini. Harga minyak juga dipastikan tidak akan bisa naik lagi mencapai US$100 per barel seperti dua tahun lalu.
"Kalau prediksi saya harga normalnya sekitar US$50 per barel," katanya.
Dia menambahkan, murahnya harga minyak menyebabkan pendapatan perusahaan-perusahaan minyak terpangkas. Dari harga minyak sekitar US$100 per barel menjadi US$30 per barel.
Anjloknya harga minyak hingga di bawah US$30 per barel itu yang telah menghantam perusahaan raksasa minyak dunia, ExxonMobil, British Petroleum (BP), termasuk Chevron dan Pertamina. Produsen minyak mengalami kerugian dan terpaksa melakukan efisiensi mulai dari pengetatan anggaran hingga pemangkasan tenaga kerja.
Induk perusahaan Chevron Pacific Indonesia di Amerika Serikat melaporkan kerugian US$588 juta pada kuartal IV-2015. Pendapatan sepanjang 2015 merosot 70 persen menjadi US$4,6 miliar dibanding 2014 sebesar US$19,2 miliar.
Chevron Pacific Indonesia menyatukan dua unit usaha yang berada di Sumatera dan Kalimantan demi pengetatan anggaran.
Chevron Pacific Indonesia juga terkena imbas dan berusaha menyelamatkan perusahaan dengan melakukan pengetatan anggaran, dan perampingan organisasi dengan menyatukan dua unit usaha yang berada di Sumatera dan Kalimantan, yaitu PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Chevron Indonesia Company.
Chevron bahkan tidak memperpanjang kontrak kerja sama migasnya (PSC) blok migas East Kalimantan dengan Pemerintah Indonesia, yang akan habis masa kontraknya pada 2018. Keputusan ini sebagai langkah pemangkasan belanja modal, karena pengembangan blok East Kalimantan dianggap tak lagi menguntungkan bagi portofolio Chevron dengan harga minyak saat ini.
Senior Vice President, Policy, Government and Public Affairs Chevron Pacific Indonesia,‎ Yanto Sianipar, membenarkan perusahaannya sedang melakukan perampingan.
"Mungkin bukan istilah PHK, saya tidak setuju. Ini adalah program untuk menyesuaikan model operasi dan bisnis kami yang terkait dengan perubahan organisasi, struktur, ukurannya, dan ada proses pemilihan pegawai untuk organisasi yang baru," katanya kepada VIVA.co.id di Jakarta, Kamis 4 Februari 2016.