"Amplop wajib ditandatangani di atas materai dan dikembalikan ke Human Resource," kata dia.
Bila mengambil paket ini, pengunduran diri karyawan Chevron akan berlaku efektif per Maret 2016. Yang didapatkan adalah uang pensiun dan mendapatkan insentif dua belas kali gaji pokok.
Kedua adalah tahap seleksi. Dia menjelaskan, Chevron membuat tahap seleksi bagi karyawan yang tidak memilih paket pengunduran diri. Ketiga, adalah tahap yang meresahkan seluruh karyawan Chevron, yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut Safriza, proses seleksi dan PHK kini menghantui mereka. Sejak dua pekan terakhir, karyawan resah karena tidak ada kepastian. Keresahan ini memecah konsentrasi bekerja dan bisa berdampak pada penurunan produksi.
Padahal, kata dia, Chevron bisa melakukan enam hal sebelum mengurangi karyawan. Pertama adalah evaluasi penggunaan tenaga kerja asing. Kedua, mengevaluasi dan mengelola pengadaan barang dan jasa.
Ketiga, mengevaluasi penggunaan karyawan "cadangan". Keempat, perusahaan ini harus menilik kembali pengadaan energi listrik lewat anak usahanya. Kelima, perusahaan harus mengawasi secara ketat biaya operasi, yang bisa diganti pemerintah oleh cost recovery.
Keenam, perusahaan juga harus mengelola biaya pemeliharaan dan perawatan fasilitas penunjang, seperti perawatan gedung, perumahan, dan sarana prasarana.
Menyikapi kondisi di perusahaannya itu, Safriza juga telah bertemu dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) untuk melaporkan keresahan karyawan akibat wacana PHK yang akan dilakukan Chevron pada pekan lalu.
"Kami ada empat serikat pekerja di Chevron. Keempat serikat pekerja ini dipanggil Dirjen PHI (Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial) Kementerian Tenaga Kerja. Yang jelas, serikat pekerja dipanggil Kementerian Tenaga Kerja, SKK Migas, dan Kementerian ESDM," kata dia.
Hantaman harga minyak
Kecemasan Chevron dan karyawan terkait anjloknya harga minyak sangat beralasan. Perusahaan kelas dunia yang bergerak di sektor minyak itu dihadapkan pada situasi yang tak mudah. Â
Harga minyak sudah turun tajam 70 persen sejak 2014. Saat itu, harga minyak sempat menyentuh lebih dari US$100 per barel.
Kini, harga minyak berada di level terendah dalam 12 tahun. Bahkan, sempat menyentuh di bawah US$30 per barel, karena melimpahnya pasokan minyak dunia dan melemahnya permintaan.