SOROT 396

Setia di Garis Massa

Savic Ali (tengah) bersama Romo Sandyawan Sumardi dan Romo Mudji Sutrisno. Foto: Dok. Pribadi Savic Ali
Sumber :
  • Dokumentasi Pribadi Savic Ali

VIVA.co.id – Hari menjelang siang. Jam di tangan menunjuk angka sembilan. Namun, kantor NUtizen masih terlihat sepi. Hanya ada satu orang yang tampak lalu lalang, keluar masuk ruangan.

img_title Survei: Prabowo Jadi Presiden dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat Tertinggi Sejak Reformasi

Tak ada yang istimewa di ruangan yang terletak di lantai empat, Gedung Soedarpo, Jalan Blora, Jakarta Pusat ini. Hanya ada sejumlah ruang yang disekat-sekat dengan kaca dan perabotan, laiknya kantor sebuah perusahaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Satu demi satu, beberapa orang terlihat datang. Mereka masuk salah satu ruangan yang agak besar dan langsung menggelar rapat. Tak berselang lama, Mohamad Syafi’ Ali (42), founder sekaligus chief operating officer (COO) NUtizen tiba. Ia langsung masuk ruang rapat dan bergabung dengan sejumlah orang yang sudah menunggunya.

img_title Peringati 26 Tahun Reformasi, Aktivis 98: Kekejaman Orba Tak Boleh Dilupakan

“Inilah aktivitas saya sekarang,” ujar Syafi’ kepada VIVA.co.id, Kamis, 12 Mei 2016.

Aktivis yang terlibat dalam gerakan Reformasi 1998 ini mengatakan, selain NUtizen, ia juga menjadi direktur NU Online dan mengelola situs Islami.co. “Saya juga aktif di jaringan Gusdurian,” ujar pria yang akrab disapa Savic ini.

img_title Aktivis 98 Soroti Tantangan Geopolitik Dunia yang Makin Penuh Friksi

Ia menjelaskan, NUtizen merupakan sebuah perusahaan yang ia dirikan bersama putri almarhum Gus Dur, Alisa Wahid. “Perusahaan terbesarnya, ya PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Kami partneran dengan swasta untuk buat platform teknologinya,” ujar pria kelahiran Pati, 21 November 1974 ini.

Menurut dia, NUtizen adalah platform TV atau video streaming untuk komunitas muslim. Visinya membantu kiai dan pesantren agar memiliki channel tv streaming dan bisa membuat materi audio visual.

“Jadi, gabungan kayak Youtube dan Periscope secara teknologi. Tapi kontennya, konten-konten keislaman,” dia menjelaskan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak seperti sejumlah koleganya yang terjun ke dunia politik, Savic memilih jalan berbeda. Alih-alih sibuk menggalang dukungan atau merapat ke partai politik, pria ceking ini malah memilih terjun ke dunia media.

Sebelum di NUtizen dan NU Online, ia sempat mendirikan penerbitan buku dan majalah. Ia bahkan masih nyambi jualan buku dan tas lewat online. “Di politik, aku merasa nggak akan bisa menyumbangkan pikiran dan kemampuanku secara maksimal,” ujarnya beralasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut