- VIVA.co.id/Irwandi
Mahasiswa, kata Doli, sebetulnya tidak mempermasalahkan Soeharto secara pribadi. Di luar kesalahannya di akhir kepemimpinan, harus diakui jasanya sangat besar. Yang dipersoalkan adalah kepemimpinan yang tidak kompatibel lagi dengan perkembangan masyarakat yang terus bergerak maju menuju perubahan.
Doli sendiri mengaku turut membangun gerakan dari kalangan mahasiswa yang kritis terhadap kepemimpinan saat itu. Tahun itu, ia sudah berkiprah di kancah nasional sebagai salah satu ketua di PB Himpunan Mahasiswa Indonesia. Di intra kampus, Doli merupakan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Padjadjaran.
”Beberapa teman-teman yang kritis dari kampus berbeda membangun jaringan komunikasi. Begitu masuk level nasional ketemu semua,” ujarnya.
Sejumlah tokoh gerakan mahasiswa yang bertemu dan membangun gerakan bersamanya antara lain, Rama Pratama dari Universitas Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dan Ray Rangkuti dari UIN Syarif Hidayatullah, Sarbini dari FKSMJ, dan Simanjuntak dari GMKI.
![]()
Sejumlah aktivis berpose di tengah-tengah aksi demonstrasi 1998. Foto: Dokumentasi Pribadi Taufik Basari
”Kita tentu berbeda latar belakang, yang jelas beda kampus, beda organisasi kemahasiswaan, ada HMI, PMII, ada GMNI. Juga bersama teman-teman yang independen, yaitu Ray, yang mengambil posisi dalam gerakan-gerakan LSM,” kata Doli.
Gerakan aksi mahasiswa 1998 itu terbilang solid karena tak mempersoalkan latar belakang. Mereka tidak membuat kompromi atau pun tawar menawar. Fokus mereka satu, rezim Orde Baru harus runtuh.
Sebagai aktivis yang tergolong senior, Doli bersama rekan-rekannya mengonsolidasi jaringan guna menyikapi situasi yang tak menentu itu. Diskusi digelar, isu dimatangkan, pemimpin mahasiswa disolidkan, nasihat senior didengar.
”Senior-senior di atas kita ada yang menjadi mentor, misalnya Yudi Latief, beberapa kali kita diskusi, mematangkan situasi, langkah-langkah apa yang akan kita konversi menjadi gerakan, dengan melibatkan senior-senior itu,” dia bercerita.
Meski menjadi pelaku sejarah, Doli menegaskan, bukan orang yang terdepan. Ia dan kawan-kawannya berada di lapis kedua, di belakang ketua-ketua BEM yang lebih muncul banyak muncul di publik.
Selanjutnya...Mahasiswa Tak Lagi Kritis
Mahasiswa Tak Lagi Kritis
Namun hingga kini, Doli mengungkapkan, para aktivis 98 itu terus menjalin komunikasi, meskipun pascareformasi 98 mereka tersebar. Sebagian aktivis itu bertemu kembali dalam pentas politik maupun ranah lain. Doli yang kemudian terjun di dunia politik mengaku kerap bertemu dengan kawan perjuangannya di berbagai kesempatan.