- REUTERS/Jacques Brinon/Pool
Tak kuat dengan penyensoran yang terjadi dan menuding bahwa para peretas dari China yang melancarkan serangan yang berimbas pada pencurian dari hak kekayaan intelektualnya, perusahaan teknologi itu memutuskan keluar dari China, pada 22 Maret 2010.
Memilih Hong Kong
![]()
David Drummond
David Drummond, Kepala Eksekutif Pengembangan Korporat dan Urusan Hukum Google, seperti dikutip dari situs New York Times, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan ‘serangan yang sangat canggih atas infrastuktur kami yang berasal dari China’.
"Serangan-serangan ini membuat kami memutuskan untuk meninjau kelayakan operasi bisnis kami di China," tulis Drummond, dalam blog pribadinya. Kendati demikian, Drummond tidak menyebut apakah Google sudah mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan serangan siber ke jaringan komputer mereka.
Menurut dia lagi, tujuan utama para peretas adalah mengakses akun milik para aktivis hak asasi manusia (HAM) China di situs surat elektronik Gmail.
Tak hanya itu, serangan siber juga terjadi pada situs milik 20 perusahaan besar di sektor keuangan, teknologi, media, dan kimia. Dengan tutupnya kegiatan Google di China, Drummond menyatakan bahwa perusahaannya tidak lagi menyensor data laman pencari informasi Google berbahasa Mandarin.
Google lalu akan bertemu dengan pihak berwenang di China apakah bisa mengoperasikan situs pencari yang tak di sensor di China. "Kami sadar bahwa kebijakan ini akan menutup domain google.cn dan berpotensi menutup kantor-kantor kami di China," lanjut Drummond.
Dia menegaskan bahwa keputusan ini berdasarkan arahan dari para eksekutif Google di AS dan ‘tanpa sepengetahuan atau keterlibatan para staf di China.’ Ke manakah Google berlabuh? Drummond menyatakan perusahaannya mengalihkan para pengguna ke domain google.com.hk, atau Hong Kong. Hal tersebut dilakukannya pada akhir Juni 2010.
Lain halnya dengan di Inggris. Pada Januari 2016, pemerintah Inggris meminta Google untuk membayar 130 juta poundsterling (Rp2,5 triliun) setelah dilakukan audit terbuka oleh otoritas pajak setempat.
Melansir situs Financial Times, Kesepakatan itu mendapat kritik dari anggota parlemen oposisi Inggris yang menilai jumlahnya terlalu rendah.
Tagihan itu meliputi utang pajak Google di Inggris selama 10 tahun (2005-2015), setelah enam tahun penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas pajak Her Majesty's Revenue and Customs (HMRC).