Merawat Keberagaman

Tim Gegana Polda Kalimantan Timur melakukan pemeriksaan di Gereja Oikumene Samarinda usai terjadinya ledakan bom yang menewaskan seorang bocah berusia 3,5 tahun, MInggu (13/11/2016). Foto: ANTARA FOTO/Amirulloh
Tim Gegana Polda Kalimantan Timur melakukan pemeriksaan di Gereja Oikumene Samarinda usai terjadinya ledakan bom yang menewaskan seorang bocah berusia 3,5 tahun, MInggu (13/11/2016). Foto: ANTARA FOTO/Amirulloh
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Amirulloh

VIVA.co.id – Bulir-bulir hujan sebesar biji jagung menyerbu lahan makam di Desa Putaq, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Air pun menggenangi tanah, membuatnya lengket ketika diinjak.

Namun, semua orang tak peduli. Petang itu, mereka tetap berkumpul. Beberapa terlihat sudah kuyup dengan baju basah dan mengelilingi sepetak lubang berisi peti kayu, yang dipayungi selembar terpal biru.

"Mama..aku cantik kan?" ujar Diana dengan mata yang tak hentinya menitikkan air mata. "Sebelum ke gereja, anakku sempat menari kecil di depanku dan sambil berkata, 'Mama aku cantik kan?”

Air mata pun luruh tak tertahan di mata perempuan berusia 32 tahun tersebut. Sore itu, di bawah payung awan hitam dan hujan yang meruah. Diana menyaksikan terakhir kalinya tubuh putrinya yang baru berusia 2,5 tahun.

Hari itu - tepatnya Selasa, 15 November 2016 - Intan Olivia Marbun, gadis kecil nan jelita putri dari pasangan Anggiat Banjarnahom dan Diana Susan Sinaga, dimakamkan.

Di atas tanah basah dan bulir hujan itu Intan Olivia meringkuk membawa perihnya. Api yang membakar hampir seluruh tubuhnya serta asap yang membuat paru-parunya bengkak dan telah membuatnya menderita sejak dua hari lalu kini tiada lagi dirasakannya. "Cukup anak saya yang terakhir," ujar Anggiat dengan tegar.

Hari itu juga kesedihan bukan cuma milik Diana dan Anggiat. Semua orang turut berduka mendengar cerita tragis kematian Intan Olivia. Ucapan duka untuk kepergian Intan di jejaring sosial begitu masif. Termasuk juga beragam aksi simpatik seperti membakar 1.000 lilin ikut bermunculan di sejumlah wilayah Indonesia.

Bagi publik, apa yang dialami Intan, Anita Kristobel Sihotang (2 tahun), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4) dan Triniti Hutahaean (3) di Minggu pagi, 13 November 2016, akibat bom yang meledak di Gereja Oikumene memang pantas dianggap sebuah kebiadaban.

Empat anak-anak tak berdosa itu terpaksa menderita dan Intan pergi mendahului mereka. Ia lebih dahulu meninggalkan semuanya.

"Tidak ada kata yang dapat menggambarkan betapa dalam rasa duka cita saya atas meninggalnya Intan. Itu (aksi teror) sudah di luar batas kemanusiaan. Karena ini anak-anak kita," kata Presiden Joko Widodo di Jakarta bertepatan dengan hari pemakaman Intan di Desa Putaq Kabupaten Kutai Kertanegara.

Ujian Berat

Kepergian Intan yang begitu cepat, dengan cara yang keji, adalah tragedi terkini bagi bangsa Indonesia. Tragedi ini muncul saat negeri ini kembali menghadapi ujian sebagai bangsa yang selama ini menjunjung tinggi kerukunan di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan golongan.

Lebih dari dua pekan sebelum kematian Intan, diakui, bibit konflik beraroma sentimen SARA memang sedang mengemuka di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
img_title