- VIVA.co.id/ Danar Dono
Menurut Eko Iswandi, salah satu pengurus Majelis Gubah Al Haddad, Ahok telah menepati janjinya. Secara legal, kompleks makam tersebut saat ini telah sepenuhnya dimiliki jemaah. "Sudah enggak masalah. Makam tersebut sudah milik (jemaah) Mbah Priok. Tidak ada masalah dengan yang lain," ujar Eko, Selasa, 14 Februari 2017.
Selanjutnya, Jejak Kompleks Makam
Jejak Kompleks Makam
Kompleks Makam Mbah Priok menempati lahan seluas 3,4 hektare. Suasana di kompleks makam ini terbilang lega. Atap bangunan dibuat tinggi sehingga hawa panas dapat berkurang.
Tempat parkir juga tersedia cukup luas. Di area parkir, banyak warung berdiri untuk melayani para pengunjung. Memasuki ruangan besar pertama, terdapat area salat yang dibagi dua untuk wanita dan pria. Ada pula kolam air sumur yang diyakini suci. Air ini bebas untuk diminum dan dibawa pulang namun tak boleh digunakan untuk berwudu.
Memasuki area Inti, terdapat sebuah ruangan besar. Di dalamnya terdapat makam yang disebut makam Mbah Priok dan beberapa keturunan langsungnya. Peziarah bisa langsung masuk ke dalam ruangan itu pada saat-saat tertentu, yaitu Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi Muhammad SAW, dan haul.
![]()
Saat ini, bangunan kompleks makam Mbah Priok masih dalam pengembangan dan renovasi. Pihak pengurus mengaku masih menunggu konsep gambar untuk pengembangan lanjutan. (VIVA.co.id/Danar Dono)
Cikal bakal kompleks makam itu, menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, berawal dari daerah Koja yang sekarang disebut Tanjung Priok. Mulanya daerah itu adalah wilayah Kerajaan Tiram. Dalam prasasti Kanjuruhan di dekat Malang, Jawa Timur disebutkan, raja memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk pergi ke daerah Tiram. Hal itu karena salah satu penghasilan Kanjuruhan ketika itu adalah membuat bejana. Sementara daerah Tiram itu memiliki potensi untuk dibuat gerabah atau bejana.
Setelah orang suruhan raja Kanjuruhan itu berhasil membangun industri gerabah di Tiram, kemudian lahir power system. Dari power system itu terbentuk sebuah kerajaan, di mana raja-rajanya disebut dengan nomenklatur Dewan Negara. Priok menjadi salah satu Dewan Negara. Orang Betawi memanggil Dewan Negara Priok itu dengan panggilan Baba atau Baba Priok.