- VIVA.co.id/M Ali Wafa
"Waktu itu setahu saya bemo masuk dalam jumlah besar satu kali, jadi bukan produksi sampai tahun berapa, tidak. Jadi sekali datang tidak tahu berapa ribu unit dan berapa kali pengiriman. Itu impor dari Jepang. CBU (Completely Built Up), jadi belum diproduksi di sini," kata Pradipto kepada VIVA.co.id.
Selanjutnya, Menyingkirkan Becak
Menyingkirkan Becak
Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis dalam buku "Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa" karya Ratna Saptari terbitan KITLV-Jakarta, bemo pertama kali mendarat ke bumi nusantara pada 1962-an. Bemo memang sengaja dipesan khusus Presiden Soekarno, sebagai kendaraan angkutan di Jakarta dalam kaitannya menyambut Ganefo, pekan olahraga akbar yang digadang-gadang menyaingi olimpiade.
Agenda lain, Bung Karno menghadirkan bemo sebagai bagian untuk menghapus becak dari Tanah Air. Alasannya, karena Bung Karno merasa iba dengan pemandangan adanya seseorang yang harus rela berpeluh keringat menggenjot pedal becak demi sesuap nasi. Apalagi pedal diinjak setelah adanya tawar-menawar ongkos, sungguh pedih di matanya. Bung Karno memandang itu bagian simbolisasi exploitation de lhome par lhome --penindasan manusia di atas manusia.
Sekadar gambaran, saat itu tarif becak per jam untuk jarak 10 kilometer cuma Rp10. Ketika cuaca buruk, tarifnya dinaikkan menjadi Rp15 untuk jarak 10 kilometer. Tarif sewa becak ini digantung atau ditempel pada badan becak, sehingga mudah dilihat calon penumpang. Jika pengemudi becak melanggar, maka akan dikenakan sanksi tak boleh menarik selama satu tahun dan didenda setinggi-tingginya Rp5.000.
![]()
Kini tarif bemo untuk jauh dekat Rp3 ribu. Sementara mereka yang narik bemo milik orang lain, harus setoran Rp50 ribu setiap hari. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Bung Karno lalu mengajukan gagasan modernisasi sarana transportasi lokal becak dengan menggunakan tenaga motor sebagai pengganti tenaga manusia. Itu juga sebabnya mengapa kata bemo dipilih, karena akronim dari becak motor.
Tak lama keudian, Menteri Perindustrian kala itu, Chairul Saleh, mengimpor 3.000 kendaraan buatan Jepang dengan nilai US$13,3 juta, yang salah satu jenisnya merupakan Daihatsu Midget (kerdil) yang berjuluk bemo di Tanah Air.