SOROT 443

Bemo Ganefo Warisan Soekarno

Bemo saat mangkal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Tak cuma menteri perindustrian, Gubernur Jakarta kala itu, Sumarmo, juga langsung memuluskan rencana Pimpinan Besar Revolusi Indonesia. Becak kemudian diberangus. Para tukang becak diarahkan untuk menjadi sopir bemo.

img_title COVID-19: Toyota Indonesia Siapkan Layanan Transportasi Terkoneksi

Dalam laporan Suluh Indonesia, 25 September 1962, untuk memudahkan para tukang becak memiliki bemo, mereka dapat membelinya secara mengangsur setelah tiga tahun dioperasikan. Para tukang becak lalu dilatih mengoperasikan bemo secara cuma-cuma oleh pusat Yayasan Motor, terutama bagi mereka yang bisa membaca dan menulis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selanjutnya, Pernah Dipuja

img_title Mengintip 10 Kota Termahal Dunia untuk Berangkat Kerja

Pernah Dipuja

Program Bung Karno kemudian dilanjutkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1966. Bersama Raden H Atje Wiriadinata sebagai wakilnya, letnan jenderal loyalis Bung Karno itu mengerahkan 1.200 bemo di zona-zona bebas becak.

img_title Mengintip Megahnya Bus Atlet untuk Asian Games 2018

Pada masa jayanya, bemo dianggap sebagai angkutan yang banyak membantu masyarakat dalam menjalankan berbagai aktivitas, karena penggunaan teknologi yang sudah dianggap modern pada waktu itu.

Tak butuh waktu lama, bemo lalu menggantikan wajah Jakarta. Bemo mengisi wilayah operasi becak. Di Jakarta, bemo beroperasi di jalan-jalan utama seperti Jalan Sudirman, Thamrin, Hayam Wuruk, Gadjah Mada, Balai Kota Jakarta, Gunung Sahari, dan Menteng.

Sorot Bemo

Sebuah bemo saat melintas di kawasan perkotaan di Pejompongan, Jakarta. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)

Bemo mulanya beroperasi seperti taksi, namun kemudian dibentuk trayek tertentu, dan akhirnya dikhususkan ke trayek pinggiran yang tak disentuh oleh bus kota. Bemo lalu berkembang ke beberapa kota lain, seperti Bogor, Bandung, Padang, Medan, Malang, hingga Denpasar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam tulisan "Kisah Tentang Bemo", karya Erwin, terbitan 2011, bemo dahulu juga disebut pernah mengantar belanjaan sayur-mayur ke Istana Negara. Tetapi nahasnya, bemo itu pernah meledak di lingkungan istana, hingga suara letusannya cukup mengagetkan pasukan keamanan istana. Sesudah peristiwa itu, bemo tak boleh lagi masuk istana.

Koordinator Bemo Jakarta, Sutino Hadi, mengambarkan, dahulu profesi sopir bemo cukup membanggakan. Karena menjadi idola banyak pelajar, pekerja dan penghasilan yang tak kecil. "Tahun 1970-an ongkosnya cuma Rp15, saat itu bensin harganya masih Rp70 per liter. Kalau sekarang kan tarifnya Rp3.000," kata Sutino saat berbincang dengan VIVA.co.id.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut