- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Realitas sepertinya memang tidak dapat disangkal. Perkembangan teknologi yang semakin maju berdampak pada banyaknya moda trasportasi modern menjadi berkembang di Kota Jakarta. Sementara kebijakan pemerintah yang harus mencabut satu-persatu izin operasi bemo, mengakibatkan bemo semakin terpinggir serta ilegal.
"Bemo semakin marjinal pada 1995, setelah adanya instruksi peremajaan Angkutan Pengganti Bemo (APB). Dari tahun 1995, sudah ada upaya berbagai pengusaha untuk mengganti bemo menjadi APB," kata Sutino, koordinator Bemo Jakarta.
Tetapi bukannya membantu, tapi mereka ngobyek, mencari keuntungan. Jadi mereka berdalih kemauan mereka, tetapi secara enggak langsung mereka cari keuntungan, Sutino menambahkan.
Â
Kata dia, ngobyek yang dimaksud adalah ketika melakukan peremajaan, mereka harus memiliki uang. Apabila tak punya, tak bisa diremajakan. "Mau tidak mau bemonya harus dijual, tapi mereka (pemerintah-pengusaha) kerja sama terlalu rapi. Jadi waktu itu kita KIR saja pun enggak boleh. Jadi kalau sekarang kita tidak bayar pajak dan KIR, itu bukan kesalahan dari kita. Karena mereka menutup jalan kita."
Selanjutnya, Di Ambang Ajal
Di Ambang Ajal
Kejayaan bemo di ambang kematian. Suku cadangnya kian terbatas. Apalagi sudah sejak lama Daihatsu tak menyuplai onderdil bemo paska penghentian produksinya pada 1972. Akibatnya banyak bemo lantas menjadi besi rongsokan tua. Populasinya terus menyusut, mendekati punah.
![]()
Meskipun mengalami mogok berkali-kali para sopir tetap setia mencari rejeki dengan bemo. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Di kalangan para sopir, mogoknya bemo kadang disebut misteri. Sebab mesin hidup saat menunggu penumpang, tetapi mati saat baru mau diajak jalan. Candaan yang akrab di telinga mereka, "Bemo itu sehari narik, dua hari di bengkel".
Mogoknya bemo tentu terbilang wajar, sebab mesinnya sudah berusia di atas 50 tahun alias sepuh. Hujan merupakan musuh bebuyutan sopir bemo, karena dipastikan bemo bakal mogok.
Tak sedikit para sopir bemo yang memilih pensiun atau menjual kendaraan tuanya pada para kolektor. Bemo-bemo itu pun dijual dengan harga murah, sekira Rp5 jutaan. Tetapi jika kondisinya masih bagus, masih laku Rp10 jutaan.