- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Sebenarnya ada yang cukup menarik perhatian. Bemo sendiri merupakan kendaraan yang diperuntukkan mengangkut barang di negara asalnya Jepang. Tetapi di Indonesia disulap menjadi pengangkut manusia dan pernah menjadi kendaraan favorit.
"Di Jepang kendaraan roda tiga ini dipakai untuk kendaraan serbaguna, komersil, untuk toko klontong, pertanian, kadang-kadang mereka jalan di sawah-sawah juga. Kenapa tiga roda? Karena radius putarnya kecil sekali, itu sebabnya bemo itu tiga roda. Jadi dia bisa lewati jalan tidak lebar dan bisa digunakan sebagai kendaraam komersil, bawa barang," kata Pradipto Sugondo --Executive Officer RnD PT Astra Daihatsu Motor.
Bemo yang hadir di Indonesia adalah model MP. Bemo jenis ini sudah menggunakan setir bundar sehingga lebih mudah dikendarai. Mesin yang diusung berkapasitas silinder 305 cc, dan dapat memproduksi tenaga 12 daya kuda.
Selanjutnya, Mulai Termarjinal
Mulai Termarjinal
Seiring berkembangnya zaman, terlebih sang penggagas wafat pada 1970, bemo mulai terpinggirkan. Bemo dituding jadi salah satu penyumbang kemacetan dan polusi Jakarta. Satu per satu trayek bemo lalu dipersempit menjadi lebih terbatas. Pertama kali izin operasi bemo yang dicabut di bilangan Menteng, sekira tahun 1971.
Dalam buku berjudul “Selamat Berkendara di Jalan Raya” garapan Kusmagi, terbitan 2010, dituliskan para pemilik bemo lalu merintis pangkalan di Pasar Bendungan Hilir. Jalur trayek bemo dari Bendungan Hilir mulanya mencapai Pasar Tanah Abang, tetapi ketika kawasan Pasar Tanah Abang semakin macet, jalur trayek Benhil–Tanah Abang dibagi dua.
![]()
Sebuah bemo berjalan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. (VIVA.co.id/M Ali Wafa)
Jalur pertama adalah jalur Benhil hingga sekitar Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan. Jalur kedua, dari sekitar Karet-Sudirman hingga Pasar Tanah Abang. Dua jalur trayek inilah yang masih bertahan sampai saat ini di wilayah Jakarta Pusat, di samping beberapa jalur trayek bemo lainnya seperti di Grogol Jakarta Barat, dan Manggarai Jakarta Selatan.
Pencabutan izin operasi bemo kemudian menjalar, menyusul dilakukan pencabutan izin di Surabaya dan Malang, hingga Surakarta. Sementara seperti ditulis di buku “Low Impack Games” karya Sanoesi, terbitan 2010, bemo saat itu diprediksi bakal mati tak kurang dari lima sampai 10 tahun. Tetapi kenyataannya, bemo masih tetap bertahan hingga kini. Cuma 10 tahun bemo tampak gemilang, setelah itu temaram, meski nampak hidup segan mati pun tak mau.