- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Sedangkan sopir bemo yang masih bertahan, mesti ikhlas mendapat uang tak besar, apalagi biaya pemeliharaan bemo yang tak kecil. "Kalau perawatan paling ganti platina, busi, oli. Tetapi kalau rusak, kita harus punya tabungan Rp300 ribu untuk membetulkannya," kata Sutino.
Untuk sekadar mendapatkan suku cadang saja, mereka mesti menyambangi toko-toko suku cadang loak. Mereka juga bisa dapatkan dari mantan juragan bemo yang masih menyimpan stok. Suku cadang dahulu biasanya didapat dari Bogor. "Karena dari dulu bemo terbanyak itu di Bogor. Tapi sekarang bisa dikatakan sulit sekali ditemukan bemo di Bogor," katanya.
Cara lain agar bemo tetap lestari, adalah menganibalkan onderdil-onderdil lain agar mesin bisa tetap hidup. Meski begitu masih saja ada masyarakat yang melirik bemo menjadi sarana transportasi jarak dekat. Walaupun kebanyakan anak sekolah yang jadi penumpangnya, namun dianggap cukup bagi para sopir bemo untuk tetap bertahan hidup bersama keluarganya.
"Harapan saya, kalau pemerintah memang peduli, dukung kami. Karena secara tidak langsung ini warisan Bung karno, jangan sampai ini punah. Bagaimana pun bemo punya dan banyak sejarahnya," kata Sutino. (umi)