- VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis
Meski kisah yang diangkat berasal dari cerita yang sudah turun temurun selama berabad-abad, namun filosofi dalam wayang tak pernah basi, dan tetap menarik disimak.
Karena mementaskan wayang adalah mementaskan kehidupan seorang manusia. Kisah yang disampaikan adalah kisah yang sama, hanya berganti tahun, berganti masa dan berganti kondisi sosialnya.
Kelompok wayang orang Sriwedari misalnya. Melakukan pementasan dengan dua alasan, menyambut Kongres IX Serikat Nasional Pewayangan Indonesia atau Senawangi dan menyambut perayaan wayang orang itu yang tahun ini mencapai 107 tahun. Sebuah usia yang luar biasa untuk perjuangan mempertahankan kesenian dan tradisi budaya. (Baca juga: Seabad Wayang Orang Sriwedari Berjuang)
Lebih dari satu abad wayang orang Sriwedari melakoni perjalanan budayanya. Di tengah gempuran masa yang menuntut serba mudah dan cepat, wayang orang Sriwedari tetap setia menjalankan pentas dengan persiapan matang yang melibatkan puluhan orang, ratusan alat musik, seni berpakaian dan berdandan yang mungkin saat ini dilihat lamban serta ribet. (Baca juga: Pernik-pernik Wayang Orang)
Salah satu kelompok yang ikut berperan aktif menjaga kesenian wayang orang adalah Triardhika Production, yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta membawa wayang orang Sriwedari berpentas di Jakarta.
Produser Triardhika, Enny Sulistyowati, berkisah, Sriwedari adalah kelompok wayang orang yang awalnya dibentuk di dalam keraton yang akhirnya dibawa keluar. Setelah dipentaskan di luar keraton, wayang orang menjadi semakin dikenal.
Apalagi menjelang kemerdekaan, wayang orang disiarkan di sebuah siaran radio. Maka makin luaslah penggemarnya. Semakin banyak penggemar wayang orang, membuat seorang pengusaha asal Tionghoa tertarik menjadikannya sebagai hiburan yang memiliki nilai jual.
“Jadi pada zaman dulu itu kemudian dikemas oleh pengusaha Tionghoa supaya bisa dijadikan hiburan yang memiliki nilai jual. Dijadikanlah wayang orang sebagai tontonan panggung, dan tontonan panggung itulah yang ada sampai sekarang,” ujar Enny.
Enny mengaku sangat mengagumi Sriwedari, yang kini sudah mencapai empat generasi. Kelompok ini pernah mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1970-an. Di masa itu, ada tiga nama yang begitu populer dan kini mulai melegenda. Ketiganya adalah Surono, Rusman, dan Darsih.