- VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis
Meski demikian, para pemain wayang orang Sriwedari tetap menjalani perannya dengan profesional. Mereka menyadari, ada sesuatu yang lebih dari sekadar nilai finansial yang membuat mereka terikat.
Bagi Suparmin, Eddy, Enny, Kondang, dan Dhestian, melakoni peran mereka dalam pewayangan bukan sekadar peran kosmetik. “Wewayangane ngaurip,” begitulah mereka menjalaninya, melakoni peran itu adalah menjalani kehidupan mereka sendiri.
Mereka ingin mengingatkan, wayang adalah refleksi kehidupan manusia, sejak dari dalam kandungan, lahir, tumbuh besar, hingga kematian, termasuk pertikaian, permusuhan, cinta kasih, perdamaian, tokoh jahat dan tokoh baik, itu semua adalah kehidupan, dan itu semua tergambar dalam pewayangan.
Para pelakon sepakat, wayang orang bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Pemain, kondisi sosial, dan bahasa yang digunakan mungkin bisa berubah, namun nilai-nilai kebaikan, budi pekerti, dan filosofi menjalani hidup yang tersimpan dalam cerita tak boleh luntur. Dan sejatinya, nilai-nilai itulah yang perlu terus diwariskan. (art)