SOROT 446

Wayang Orang yang Melegenda

Salah satu agedang pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis

Ketiga orang ini disebut sebagai aktor luar biasa yang membuat popularitas Sriwedari mencapai puncak emasnya. Bahkan Presiden Soekarno kerap meminta kelompok ini tampil di hadapan tamu negara.

img_title Penampilan Kapolri, Panglima dan 3 Kepala Staf TNI Jadi Wayang Orang

Selanjutnya, Wayang Orang vs Budaya Pop

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wayang Orang vs Budaya Pop
Perjalanan Sriwedari tak selamanya mulus. Masa keemasan pada 1970-an mulai memudar. Penonton wayang orang Sriwedari mulai berkurang dan terus berkurang. Masuk tahun 1990-an, perjalanan kelompok ini semakin redup dan nyaris bangkrut. 

img_title Panglima TNI Sampai Kapolri, Tampil di Pagelaran Wayang Orang Pandowo Boyong

Budaya pop terus menggerus budaya tradisional hingga kelompok ini makin tersisih. Nasib Sriwedari mulai mengenaskan. Pentas mereka semakin sepi pengunjung. 

Tiket penjualan yang berharga sangat murah tak cukup membuat publik mendatangi gedung pertunjukan. Nasib pemain semakin susah. Namun mereka bertahan. 

img_title Anies Bersyukur Wayang Orang Bharata Memasuki Usia 50 Tahun

Teknologi yang semakin memudahkan ditengarai menjadi penyebab sepinya penonton. Untuk mencari hiburan, tak perlu lagi susah-susah membuang waktu mendatangi tempat pertunjukan. 

Ketika televisi mulai menjadi hiburan alternatif, maka manusia tak perlu lagi bersusah payah hanya untuk mencari hiburan. Perubahan budaya akhirnya berpengaruh pada kebutuhan dan selera. 

Eddy Karsito, dari bagian humas Senawangi memahami itu. “Dasar hidup manusia itu kan ada dua ya, dasar material dan spiritual," kata dia. 

Nah, secara spirit bisa saja manusia ingin menonton wayang, tetapi secara material mereka tidak terdukung. Misalnya, menonton wayang tidak semudah menonton televisi yang cukup di rumah duduk dan tidak mengeluarkan uang.

"Nah, kalau dia nonton wayang kan harus punya waktu, tenaga, uang, pikiran juga kan,” ujarnya. 

Meski demikian, Eddy yakin, tidak ada budaya yang akan terus bertahan, karena sejatinya kebudayaan nanti hanya akan menjadi simbol. Bagi Eddy, bukan kebudayaannya yang harus dipertahankan, namun nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam budaya itu yang harus bisa dipertahankan. 

“Zaman pasti berkembang. Kita hanya perlu menyesuaikan seni budaya tradisional agar tetap bisa diterima di tengah-tengah perubahan atau perkembangan zaman saat ini,” tuturnya.

sorot wayang orang - Tokoh pewayangan di pusat perbelanjaan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Budaya wayang orang masih akan tetap bertahan ditengah gempuran hiburan modern. (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

Meski mengakui perubahan zaman yang tak bisa ditolak, Eddy yakin, wayang akan bisa bertahan. Dunia pewayangan yang multikarakter, menurut Eddy, adalah representasi dari karakter manusia. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut