SOROT 446

Wayang Orang yang Melegenda

Salah satu agedang pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis

Dunia pewayangan tak hanya bicara soal orang baik, namun juga ada tokoh jahat, tokoh yang menghasut, iri dengki, dan lain sebagainya. “Wayang adalah makro, alam jagat raya. Jutaan, bahkan miliaran karakter ada semua dalam tokoh wayang,” ujarnya.

img_title Upaya Jadikan Wayang Dikenal Milenial, Bukan Cuma untuk Nostalgia

Seorang pemain Sriwedari, Dhestian Wahyu Setiaji juga mengaminkan itu. Budaya pop yang serba cepat sangat kontras dengan budaya wayang yang sudah berusia berabad-abad. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kultur dan kondisi sosial di mana budaya itu tumbuh sudah sangat jauh berbeda. Namun, itu bukan berarti wayang akan tersingkir habis oleh budaya pop.

img_title Pernik-pernik Wayang Orang

“Saingan kita itu kan saat ini memang hiburan-hiburan yang memiliki genre pop dan lain sebagainya," kata dia.

"Ketika ingin menggelar pertunjukan wayang orang itu kan setidaknya kami juga membutuhkan supporting tata artistik panggung yang juga harus bagus, khususnya untuk kami yang di Sriwedari. Kami tidak punya fasilitas yang mendukung itu semua,” ujar pria yang berusia 27 tahun tersebut.

img_title Seabad Wayang Orang Sriwedari Berjuang

Wahyu tak ingin melihat merebaknya budaya pop sebagai hambatan. Bagi pekerja seni tradisional, sepertinya ia memilih memecut diri untuk bisa terus mempertahankan eksistensi wayang orang. Ia memilih melakukan sesuatu agar wayang orang tak tergerus.

“Kami ingin wayang ini tetap berkembang, jadi kami akan terus berupaya agar kesenian ini bisa lestari,” ujarnya.

Selanjutnya, Tak Hilang Tergerus Zaman

Tak Hilang Tergerus Zaman

Meski terus mendapat gempuran, masih banyak yang memilih bertahan. Rasa cinta pada budaya tradisional ini menjadi alasan utama. 

Enny Sulistiowati salah satunya. Ia mengaku setia menjaga wayang orang karena sudah mencintainya. “Wayang itu secara pendalaman, secara filosofi sebenarnya sudah sampai pada tingkatan yang tidak ada bandingnya," tuturnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wayang itu tidak ada bandingnya dibandingkan film, sinetron. "Secara filosofis, wayang memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia,” Enny menjelaskan alasannya.

Enny juga menjelaskan, wayang berasal dari kata “wewayangan,” atau bayang-bayang. “Jadi, apa yang terjadi sekarang ini sebenarnya sudah ada di wayang zaman dahulu, sudah dikisahkan dalam cerita pewayangan. Dan itulah keunggulan wayang,” ujar perempuan yang juga ikut bermain sebagai Dewi Badari Supraba dalam lakon “Mintaraga.” 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut