- ANTARA/Andika Wahyu
"Sekarang istilahnya disubsidi pemerintah dan subsidi ini tidak berkelanjutan. Misal oke kita (pemerintah) biayaain 10-20 tahun, tapi setelah itu harus bisa mandiri, dan lama-lama tidak membebani APBD. Sekarang terbalik, justru membebani," ujar Nirwono.
Nirwono mengatakan, pemerintah tidak punya intervensi tegas bagi mereka yang tidak mengikuti aturan untuk melakukan revitalisasi. Di sinilah pentingnya rencana induk atau semacam grand design jangka panjang, di mana pemerintah bisa memberikan ultimatum. Misalnya, jika tidak mau berpartisipasi, pemerintah berhak membeli bangunan tersebut dalam konteks menyelamatkan bangunan.
Senada dengan Nirwono, Yayat mengatakan bahwa di negara-negara lain, kota tua tidak hanya dijadikan tempat untuk sekadar melihat gedung-gedung tua, tapi juga dijadikan tempat tumbuh kembang industri kreatif.
"Harus ada atraksi-atraksi komunitas yang terjadwal, menyajikan kearifan lokal, seni budaya, dan lain sebagainya. Tidak bisa menghidupkan Kota Tua dengan membenahi gedungnya saja. Kalau kami sebagai swasta kan tidak punya otority untuk melakukan itu. Kami cuma men-trigger dalam membenahi gedung-gedung yang memang memiliki nilai historis," katanya.
Target lima tahun rampung
Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sempat mengatakan bahwa revitalisasi Kota Tua ditargetkan rampung lima tahun mendatang. Yayat sedikit pesimis melihat target tersebut, karena kendala-kendala di lapangan tadi yang tak bisa dihindari.
“Bayangkan kita harus komunikasi dan melobi pemilik gedung untuk direvitalisasi, kalau pemiliknya tidak mau kita bisa berbuat apa? Pendekatan ke BUMN saja itu sudah memakan waktu sendiri. Belum yang milik pribadi," ujarnya.
Hal yang sama diutarakan oleh Nirwono. Menurutnya, selama pemerintah belum memiliki rencana induk dan tidak menganggap sekitarnya sebagai bagian pendukung Kota Tua, maka target lima tahun tadi sulit dicapai. Baginya, tidak mungkin dilakukan jika tidak memiliki pedoman.
Pada akhirnya, lanjut dia, pariwisata harus berkelanjutan. Pertama, bagi masyarakat harus menguntungkan. Kedua, tingkat sosial dan ekonomi masyarakat juga harus meningkat. Sementara kondisi yang terjadi saat ini, Kota Tua dianggap kumuh dan masih banyak peristiwa kebakaran.
"Jadi kalau ini berhasil, pariwisatanya bisa berkelanjutan, karena wisata ini kan bukan 5-10 tahun ke depan, tapi selama Kota Jakarta itu ada, ya Kota Tua juga akan tetap ada," ujarnya.