- ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Sejak IRPS menerbitkan hasil penelitian soal Semarang NIS, Balai Arkeologi akhirnya meneliti lebih lanjut kawasan Spoorland dan mengakui kampung itu sebagai lokasi stasiun pertama Indonesia.
Tjahjono memastikan bahwa rel yang menjadi jalur kereta pertama sudah tidak ada. Sebab, waktu rel pertama itu dibangun untuk jalur Semarang-Solo-Yogyakarta lebarnya 1.435 milimeter.
![]()
Kereta api kuno melintas jembatan di atas Kali Code, Yogyakarta menuju Semarang pada tahun 1900. (kitlv.nl)
Namun, karena NIS dan pemerintah saat itu mengalami kesulitan keuangan, akhirnya lebar rel kereta tersebut dikurangi dengan memakai yang lebih sempit yakni 1.067 milimeter.
"Rel 1.435 mm itu bertahan sampai zaman Jepang. Setelah Jepang masuk rel itu diambil semua dan rel seluruhnya pakai 1.067 mm," ia menambahkan.
Ketua Umum IRPS Nova Prima membenarkan. Menurut dia, rel kereta api yang pertama dibangun ada di Semarang, Jawa Tengah, yakni antara Kemijen dan Tanggung. Hal itu dilakukan sekitar tahun 1864.
“Jadi itu dimulai dengan pencangkulan lah kalau zaman dulu,” ujarnya.
Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, LAJ Baron Sloet van den Beele yang menginisiasi pembangunan jalur kereta api. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV NISM) yang dipimpin oleh JP de Bordes dari Semarang menuju Desa Tanggung dengan lebar rel 1.435 milimeter.
Pada 10 Agustus 1867, jalan kereta api pertama di Indonesia bisa diresmikan, yaitu dari Samarang sampai ke Tangoeng --sekarang Tanggung, Kabupaten Grobogan-- sejauh sekitar 25 kilometer. Dengan berbagai masalah yang timbul, akhirnya pada 10 Februari 1870 selesailah jalur sampai ke Solo.
“Setelah 3 tahun berlalu jalur itu berhasil dibangun sepanjang 25 kilometer, antara Kemijen dan Tanggung,” tuturnya.
Selanjutnya, Alasan Ekonomi dan Militer
Alasan Ekonomi dan Militer
Nova menuturkan, latar belakang pembangunan jalur kereta oleh Hindia Belanda itu karena alasan ekonomi dan militer. Saat itu, transportasi agak sulit, makanya Belanda membangun jalur kereta api.
“Pembangunan itu orientasinya faktor ekonomi dan militer,” ujarnya.
Pemerintah Hindia Belanda berpikir bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam, ada rempah-rempah, dan hasil hutan. Jadi, jaringan kereta api itu dibangun untuk membawa hasil bumi dari perkebunan ke pelabuhan untuk ekspor. Sementara itu, kalau kayu dari hutan dibawa ke kota.