- VIVA.co.id/Purna Karyanto
Ferdi mengungkapkan, dalam satu hari toko mainan grosir miliknya memiliki omzet Rp30 juta hingga Rp50 juta. Terlebih saat ini, fidget spinner sedang booming, pendapatannya tentu bisa lebih besar.
"Iya, sekarang memang sedang ramai-ramainya spinner. Penjualan di sini bisa dikatakan lumayan lah. Dan mainan itu sangat tergantung minat dari masyarakat, dan mainan itu biasanya mengikuti musim," ujar Ferdi.
Ia mengatakan, keuntungan yang bisa didapat dari berjualan fidget spinner ini hampir sama dengan booming mainan sebelumnya. Seperti, waktu musim yoyo, di mana semua orang mencari mainan tersebut.
"Artinya, dengan musim mainan seperti ini, pendapatan toko tentunya semakin bertambah mengikuti musim. Dan kalau lagi musim yoyo, ya sama, akan bertambah karena semua mencari yoyo," ujarnya.
Selanjutnya, Barang Impor dari China
Barang Impor dari China
Meski fidget spinner marak di Indonesia, nyatanya mainan tersebut tak sedikit pun dibuat di dalam negeri. Hal itu bisa diketahui dari sejumlah pedagang yang mengakui tak satu pun dari mereka memproduksi barang tersebut di dalam negeri.
Seperti Misrina, pedagang di Pasar Gembrong. Dia mengakui barang yang mereka ambil justru berasal dari grosir di Pasar Senen, Jakarta Pusat dan Kota, Jakarta Barat.
Ia mengakui, selama ini barang yang mereka beli adalah mainan impor. Dan negara yang sering ditemui mengirimkan mainan ke Indonesia adalah China. Mainan seperti fidget spinner ini tak ada yang palsu, sehingga mudah dijual.
Senada dengan Misrina, pemilik toko grosir di Pasar Esemka, Ferdi, mengakui barang mainan fidget spinner yang ia dapatkan selama ini tidak berasal dari dalam negeri. "Ini kayanya impor deh, dari China," tuturnya.
![]()
Pembeli melihat koleksi fidget spinner yang dijual di Jakarta. (VIVA.co.id/Purna Karyanto)
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance, Enny Sri Hartati, mengatakkan, booming permainan fidget spinner tentunya baik dari sisi permintaan, karena menciptakan lapangan kerja dan mendorong perekonomian.
Namun, besarnya permintaan tersebut bisa menjadi kurang berkualitas, karena barang tersebut berasal dari impor dan tidak diproduksi di dalam negeri. Kondisi itu bisa mengurangi nilai tambah di rantai pasoknya.