- ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf
Difteri juga sudah lama menjadi program vaksinasi yang digratiskan oleh pemerintah melalui Puskesmas, Posyandu, hingga ke sekolah-sekolah. Namun, ketika vaksin cakupannya sudah meningkat dan penyakit difteri menurun, orang jadi tidak takut lagi dengan difteri.
"Penyakit apa ini? Bahkan ada yang mengira difteri ini sebagai penyakit disentri. Padahal berbeda antara difteri dan disentri."
Kehidupan serba modern juga disinyalir menjadi salah satu penyebab difteri kembali menyeruak. Dengan banyaknya ragam vaksin, orangtua terkadang lupa apakah anak mereka sudah mendapatkan imunisasi atau belum.
"Banyak ibu rumah tangga kerja. Jadi imunisasi anak sudah enggak diurusi lagi dan diserahkan ke pengasuh. Mulai bolong dan enggak rutin imunisasi. Tahun demi tahun bertumpuk anak tidak diimunisasi."
Perlu diketahui, kuman difteri sangat mudah berkembang di tubuh manusia. Saat imunisasi tinggi, maka jumlah kumannya semakin berkurang. Tapi saat imunisasi rendah, maka kumannya dengan mudah berkembang biak menjadi makin banyak.
"Apalagi sekarang bayi banyak bepergian dan bebas diberi makan apa saja. Ditambah tidak ada imunisasi jadi gampang tertular."
Gencarnya anti-vaksin
Belakangan, sebelum difteri ditetapkan sebagai KLB, muncul komunitas anti-vaksin. Ramai-ramai menyerukan lewat media sosial bahwa vaksin tidak halal, vaksin konspirasi Yahudi, hingga vaksin bisa menyebabkan anak menderita down syndrome. Akibatnya, banyak orangtua memilih tidak mengimunisasi anak mereka.
"Di BioFarma itu tidak ada orang Yahudi yang bekerja di situ. Makanya bohong itu isu yang mengatakan vaksin itu produk Yahudi, haram lah, dan lain sebagainya,” kata dr Piprim.
Hari ini yang terjadi adalah, adanya GAP Imunisasi. dr Piprim mencontohkan, ada 40 orang siswa di satu kelas, tetapi yang mau diimunisasi hanya 10 orang siswa. Sementara 30 siswa lainnya tidak boleh divaksin oleh orangtuannya karena isu-isu miring tentang vaksin.
"Saat masyarakat galau, cakupan vaksinasi itu rendah, maka di situlah bakteri difteri bangkit dari kuburnya. Kenapa saya katakan bangkit dari kuburnya, karena orang banyak yang tidak diimunisasi,” ucap dr Piprim.
Diakui dia, hanya vaksinasi saja satu-satunya cara untuk mencegah difteri. Penyakit ganas ini terbukti bisa dicegah selama puluhan tahun lalu. Ketika vaksinasi digalakkan, penyakit itu bisa dikendalikan.