- ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf
Penyakit yang disebabkan oleh penularan bakteri Corynebacterium Diphtheriae ini memiliki gejala nyaris sama dengan flu. Awalnya pilek dan demam biasa. Namun yang membedakan, tiba-tiba ada bengkak di tenggorokan. Setelah dicek ada selaput lendir di selaput saluran pernapasan. Jika dicongkel sedikit dengan cotton bud akan berdarah. Ada juga gejala, langit-langit mulut terlihat bercak putih.
"Di awal agak sulit kelihatan. Kecuali, kalau kita lihat langsung selaput putih di tenggorokan atau saluran pernapasannya, kalau ada selaput putih nah itu kemungkinan besar difterinya,” kata Ketua I Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus Penggagas Rumah Vaksin Indonesia, Dr.Piprim B Yunarso Spa(K), saat ditemui VIVA di RSCM.
Dijelaskan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr Elizabeth Jane Soepardi, difteri kembali muncul di Indonesia karena banyak hal.
Dahulu sebelum ada imunisasi difteri, vaksin untuk bayi baru dimulai tahun 1977. Ini, karena kasus difteri di Indonesia endemis sehingga generasi tua umumnya mulai tahu dan sadar, difteri berbahaya dan bisa sebabkan kematian. Dan saat itu pula, publik tahu, difteri bisa dicegah dengan imunisasi.
![]()
Petugas Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat menyuntikkan vaksin DPT (Difteri, Tetanus, dan Pertusis) ke mahasiswa Universitas Tarumanegara (UNTAR) di Jakarta. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Seiring berjalannya waktu, tahun 1999 cakupan imunisasi tinggi di atas 80 persen. Kasus difteri menurun. Pada tahun 2005, kasus difteri bahkan cuma 28 kasus se-Indonesia.
"Para orangtua dan kita sudah mulai jarang lihat difteri. Mahasiswa kedokteran pun jadi susah belajar mengenai difteri karena enggak ada kasus. Akhirnya orang lupa bahwa difteri menular dan bisa mematikan tapi bisa dicegah pakai imunisasi," kata dr Elizabeth.
Sama halnya dengan dr Elizabeth, dr Piprim pun mengatakan, sebenarnya difteri sudah lama ada dan terkendali. Dan dengan adanya temuan vaksinasi, sebenarnya penyakit difteri ini sangat jauh menurun dibanding sebelum ditemukannya vaksin.
"Indonesia termasuk negara yang berhasil menurunkan penyakit difteri ini ke titik yang sangat terendah jika dibandingkan dengan sebelum ditemukannya vaksin. Kejadian penyakit ini terus mengalami penurunan,” ujar dr Piprim.