- ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf
“Ketika difteri itu datang, antibodi itu langsung melawan. Ketika orang tidak melakukan vaksinasi, dia tidak punya kekebalan khusus itu,” ujarnya.
Ditegaskan lagi olehnya, tanpa vaksinasi, kekebalan tubuh akan sulit didapat. Meski rajin melakukan olahraga, itu tidak akan cukup. Apalagi, jika hanya mengonsumsi madu, habbatussauda, ASI eksklusif, sari kurma dan lain sebagainya.
"Tidak bisa difteri dicegah hanya dengan cara itu, karena ini ganas banget. Kalau sekadar batuk, pilek, mencret biasa mungkin bisa, tapi begitu difteri, polio, tetanus, ini enggak bisa."
![]()
Siswa SMA Negeri 33 menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dilakukan imunisasi serentak atau Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri, di Cengkareng, Jakarta. (ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf)
Tak peduli pada anak-anak maupun dewasa, difteri sama bahayanya. Apalagi, jika tubuh tidak punya kekebalan, kuman difteri bisa menutup jalan napas. Yang lebih bahanya lagi, kuman juga bisa produksi racun yang merusak saraf, hingga menghentikan detak jantung.
Jika difteri kian parah, penanganannya sangat mengerikan. Tenggorokan harus dilubangi agar pasien tetap bisa bernapas. Harus juga minum antibiotik untuk bunuh kuman agar selaput putih kotor tidak bertambah.Untuk menetralisasi racun, harus pakai anti-difteri serum (ADS).
Pasien juga harus dikarantina dalam ruang isolasi, dan tak bisa bertemu orang. ADS pun harganya sangat mahal dan jumlahnya terbatas. Indonesia tidak bisa produksi, maka impor dari India. Pabrik difteri di negara lain sayangnya sudah banyak yang tutup karena kasusnya di negara mereka sudah makin sedikit. Yang membeli ADS pun semakin tak ada.
"Tapi kalau Indonesia tidak beli ADS itu, mau bagaimana? Bunuh diri namanya. ADS ini langka dan jumlahnya tebatas."
dr Piprim mengatakan, media sosial sangat berperan terhadap kasus difteri karena semakin banyaknya kelompok anti-vaksin. Mereka gencar menyebarkan isu tidak benar yang menyesatkan.
"Bahkan ada artis yang bilang tidak diimunisasi dan anaknya tidak apa-apa. Berperan besar merugikan anak sendiri dan rugikan orang lain."
Menurut dr Piprim, wabah difteri bukan hanya masalah kesehatan, ini juga menjadi masalah kemanusiaan. Orang-orang anti-vaksin dianggapnya sebagai orang-orang yang menyebarkan berita bohong dan seharusnya dipenjara.