SOROT 484

Pilkada Rasa Keluarga

Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel Dodi Reza Alex Noerdin (kir)-Giri Ramandha Kiemas (kanan) berpidato di hadapan para pendukungnya saat deklarasi di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang, Sumatera Selatan.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Pengamat politik sekaligus Pendiri Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) Hendri Satrio, mengatakan, kekuatan politik dinasti karena punya akar rumput dan popularitas yang cukup. Dengan dinasti ini maka kepentingan politik bisa diteruskan.

img_title Bedah Buku Politik di Balai Desa, Rocky Gerung: Politik Dinasti Ala Jokowi Bahaya

"Jadi sebetulnya karena kepentingan pragmatis, gagal menumbuhkan kader-kader. Ini tergantung dari sistem partai politik itu sendiri," kata Hendri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Elite parpol pun punya sudut pandang pembelaan. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Parreira mengatakan, tak bisa dipersepsikan sebagai politik dinasti bila mengusung kerabat kepala daerah petahana. Secara politik, parpol punya pertimbangan memilih calon dari segi elektabilitas.

img_title Biaya untuk Jadi Anggota DPR Rp5 miliar dan Gubernur Rp200 Miliar, Kata Eks Ketua KPK

"Pertimbangan utamanya, orang itu dianggap mampu memenangkan pilkada. Itu kan juga melalui proses penjaringan," ujar Andreas kepada VIVA, Rabu, 17 Januari 2018.

Dia juga tak percaya dengan istilah politik dinasti. Menurut dia, bila parpol menerapkan cara tersebut sama dengan bunuh diri. "Itu namanya bunuh diri. Pasti partai sendiri yang akan rugi," tutur Andreas.

img_title PSI Bantah Kaesang Jadi Jangkar Dinasti Politik Jokowi, Ini Alasannya

Hut ke 45 PDIP

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpidato pada acara HUT ke-45 PDI Perjuangan di JCC, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Sebagai parpol besar, PDIP dinilainya melakukan proses kaderisasi dengan ketat. Bahkan, kata dia, dari 171 daerah di Pilkada 2018, banyak kader PDIP yang diusung.

"Selama ini kami berjuang untuk itu. Bahkan Presiden sendiri muncul dari bawah. Salah satu bukti bahwa kaderisasi masih berjalan," ujar Andreas.

Dari Golkar juga menyampaikan pandangannya. Wakil Sekretaris Jenderal Golkar, Dave Laksono, mengatakan, sebenarnya tak ada masalah dengan pengusungan kerabat petahana. Kata dia, parpol pasti mencalonkan kandidat yang punya elektabilitas dengan peluang menang.

"Kami kan enggak mau mencalonkan orang yang tingkat kemenangannya sulit atau pasti kalah. Apalagi pasti kalah," tuturnya.

Alasan ini bukan karena Golkar tidak percaya diri. Ia menegaskan, tak hanya finansial, kemampuan elektabilitas dan jaringan juga menjadi tolak ukur. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, sejauh ini, Golkar masih memprioritaskan kader. Terbukti di Pilkada 2018, banyak kader yang diusung maju.

Partai Amanat Nasional (PAN) juga menyampaikan hal senada. Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais mengatakan, kandidat harus dilihat dari kompetensi dan kecakapan memimpin daerah. Kemudian, faktor elektabilitas juga menjadi acuan lain.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut