Sumber :
Pengantar Redaksi:
Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu.
----
Masih ingat teori Abraham Maslow yang tersohor itu? Teori ini, yang mulai dikenal pada tahun 1940an, adalah teori tentang hierarki lima tingkat kebutuhan manusia yang berlaku universal, the five-level hierarchy of needs. Kebutuhan untuk makan dan minum, kebutuhan akan keamanan fisik, kebutuhan pada kasih sayang, penghargaan serta keterlibatan sosial. Jenjang tertinggi dan terakhir dalam susunan ini ditempati oleh kebutuhan manusia untuk melakukan aktualisasi diri.
Teori Maslow, dalam ilmu politik, mendatangkan banyak perdebatan tajam dan menarik. Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal politik. Saya menyinggung teori ini karena beberapa saat lalu saya membaca ulasan Prof. Eli Finkel, seorang psikolog terkemuka dari Northwestern University, AS, yang menggunakan teori tersebut dalam mengulas soal perkawinan. Dengan judul yang mencuri perhatian, “The All-or-Nothing Marriage,” ulasan ini diterbitkan sehalaman penuh oleh koran The International New York Times untuk menyambut datangnya Hari Cinta, the Valentine’s Day, yang dirayakan oleh kaum muda di berbagai belahan dunia pada 14 Februari yang silam.
Saya tertarik sebab Prof. Finkel memberikan sebuah pandangan baru. Walaupun cukup sederhana, di dalamnya ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, setidaknya sebagai bahan pertimbangan oleh pasangan muda yang telah menikah dan kaum muda lainnya yang suatu waktu kelak akan mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan.
Selama ini, dalam studi mengenai perkawinan, ada dua pandangan yang berseberangan. Yang pertama adalah pandangan yang berkata bahwa lembaga perkawinan telah menyusut, surut dan mencair dalam masyarakat yang semakin modern. Buktinya, hampir setengah dari perkawinan (di Amerika Serikat) berakhir dengan perceraian dan kegagalan rumah tangga. Prof. Finkel menyebut kaum yang mengusung pendapat ini sebagai
Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu.
----
Masih ingat teori Abraham Maslow yang tersohor itu? Teori ini, yang mulai dikenal pada tahun 1940an, adalah teori tentang hierarki lima tingkat kebutuhan manusia yang berlaku universal, the five-level hierarchy of needs. Kebutuhan untuk makan dan minum, kebutuhan akan keamanan fisik, kebutuhan pada kasih sayang, penghargaan serta keterlibatan sosial. Jenjang tertinggi dan terakhir dalam susunan ini ditempati oleh kebutuhan manusia untuk melakukan aktualisasi diri.
Teori Maslow, dalam ilmu politik, mendatangkan banyak perdebatan tajam dan menarik. Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal politik. Saya menyinggung teori ini karena beberapa saat lalu saya membaca ulasan Prof. Eli Finkel, seorang psikolog terkemuka dari Northwestern University, AS, yang menggunakan teori tersebut dalam mengulas soal perkawinan. Dengan judul yang mencuri perhatian, “The All-or-Nothing Marriage,” ulasan ini diterbitkan sehalaman penuh oleh koran The International New York Times untuk menyambut datangnya Hari Cinta, the Valentine’s Day, yang dirayakan oleh kaum muda di berbagai belahan dunia pada 14 Februari yang silam.
Saya tertarik sebab Prof. Finkel memberikan sebuah pandangan baru. Walaupun cukup sederhana, di dalamnya ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, setidaknya sebagai bahan pertimbangan oleh pasangan muda yang telah menikah dan kaum muda lainnya yang suatu waktu kelak akan mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan.
Selama ini, dalam studi mengenai perkawinan, ada dua pandangan yang berseberangan. Yang pertama adalah pandangan yang berkata bahwa lembaga perkawinan telah menyusut, surut dan mencair dalam masyarakat yang semakin modern. Buktinya, hampir setengah dari perkawinan (di Amerika Serikat) berakhir dengan perceraian dan kegagalan rumah tangga. Prof. Finkel menyebut kaum yang mengusung pendapat ini sebagai
Halaman Selanjutnya
the marital decline camp.