Pilpres 2019, 'Rematch' Prabowo Vs Jokowi
- ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Dalam pidatonya, Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia bersama-sama menjadikan Pemilu 2019 sebagai perayaan kegembiraan dalam berdemokrasi, bukan perang apalagi permusuhan. Ia menegaskan pemilu merupakan ajang mengadu gagasan, ide, rekam jejak dan ajang mengadu prestasi.
"Jangan sampai karena perbedaan pilihan politik kita menjadi bermusuhan antar tetangga, tidak saling menyapa antar kampung sehingga kita kehilangan tali persaudaraan," kata Jokowi di kantor KPU Jakarta.
Di kubu sebelah, nama Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto juga sempat menimbulkan polemik. Munculnya nama Sandi membuat merah kuping 'teman baru' koalisi Gerindra, yakni Partai Demokrat. Andi Arief, wasekjen Partai Demokrat itu sempat berkicau di Twitter dengan sebutan 'Jenderal Kardus'.
Istilah 'Jenderal Kardus' merujuk pada sikap Prabowo yang akhirnya lebih memilih Sandiaga Uno berdasarkan mahar uang yang diberikan ke PKS dan PAN. Andi Arief menuding mental Prabowo sebagai pensiunan Jenderal ambruk lantaran duit Sandiaga Uno. Meski belum bisa dibuktikan, tudingan Andi Arief itupun reda seiring deklarasi Prabowo-Sandiaga, Jumat malam.
Ditambah lagi, partai besutan SBY itu akhirnya memutuskan untuk mendukung Prabowo-Sandiaga Uno. SBY memang tak ikut mengantarkan Prabowo-Sandi mendaftar ke KPU, namun SBY mengutus dua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono mendampingi Prabowo-Sandi ke KPU.
"Ada kejadian unik hari ini. Kita kehadiran putri Proklamator, putri Presiden kedua, dan dua putra Presiden keenam," kata Prabowo dalam pidatonya sesaat setelah bersama Sandiaga mendaftar di kantor KPU, Jakarta, pada Jumat, 10 Agustus 2018.
Prabowo merasa mendapat kehormatan atas kehadiran anak-anak ketiga mantan presiden itu. Namun dia sekaligus memperingatkan kepada KPU sebagai penyelenggara pemilu agar benar-benar bekerja profesional. Sebab hasil pemilu adalah bentuk kedaulatan rakyat dalam negara demokrasi.
Jokowi Masih Unggul
Bagaimanapun, kemenangan Jokowi atas Prabowo di Pilpres 2014 lalu tidak lantas jadi tolak ukur, bahwa calon petahana itu akan dengan mudah menjungkalkan kembali Prabowo Subianto. Walaupun dalam beberapa survei Jokowi masih yang teratas, peluang Prabowo menyalip Jokowi masih terbuka dengan komposisi cawapres yang ada.