Simalakama Kenaikan Tarif Ojek Online
- ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Respons atas tarif baru ini begitu kuat di media sosial. Curhat ketidakpuasan pengguna dengan kenaikan tarif ini dijawab oleh beberapa yang membela para pengemudi.Â
Panasnya isu tarif ojek online sudah ramai diulas sebelum ketentuan tersebut berlaku. Bahkan berbulan-bulan lalu sudah ada analisis dan kajian dampak dari kenaikan tarif ojek online.Â
![]()
Efek Domino
Dari sisi ekonomi, tarif naik ojek online bisa memicu kenaikan inflasi 1 persen. Ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, pada medio Februari lalu menuturkan, dampak tarif ojek online bagi inflasi cukup beralasan.Â
Menurut dia, bisnis ojek online memiliki dampak rentetan terhadap bisnis lainnya, seperti bisnis makanan minuman hingga bisnis logistik lainnya. Akibatnya, diprediksi kenaikan tarif ojek online bakal memberikan dampak inflasi mencapai satu persen.
"Prediksi saya dengan kenaikan 100 persen ini akan terkonversi dengan rata-rata inflasi. Kenaikannya bisa sampai satu persen dari kondisi sekarang. Jadi kalau misal target pemerintah 3,5 persen bisa jadi 4,5 persen atau bahkan lebih," kata Fithra.
Peneliti Research Institute of Socio-economic Development (Rised) malah memperkirakan, kenaikan tarif ojek online bisa membuat pelanggan beralih ke moda transportasi lain. Dalam surveinya terhadap 2.001 konsumen ojek online yang tersebar di 17 provinsi dan kabupaten kota di seluruh Indonesia, Rised menemukan, 74 persen responden tidak senang dengan naiknya tarif ojek online dan hanya 48 persen yang rela tarif naik namun tidak kurang dari Rp5 ribu per hari.Â
Malah Rised menemukan, pelanggan yang tak puas dengan kenaikan tarif berencana kembali menggunakan kendaraan pribadi mereka untuk mobilitas harian.Â
Efek domino yang lain dari kenaikan tarif ojek online khusus di Jakarta yakni membuat orang malas untuk naik moda raya terpadu (MRT). Penelitian Rised menunjukkan, sekitar 40,98 persen responden mengaku menggunakan ojek online untuk pergi ke stasiun atau terminal. Makanya Mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Zumrotin K. Susilo, mengatakan, penumpang akan mencari cara lain jika tarifnya naik.
"Ojol ini, kan, feeder. Mereka akan kekurangan konsumen (masyarakat) kalau harganya naik," ungkapnya.Â