Simalakama Kenaikan Tarif Ojek Online
- ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Ridzki meminta publik dan masyarakat untuk bersabar dan melihat bersama bagaimana nanti dampak dari tarif baru. Menurutnya masih terlalu dini, untuk membahas dampak ke ekosistem layanan mereka. Sebab pemberlakuan tarif baru satu hari, masih butuh waktu untuk memelajarinya.Â
Ridzki mengatakan, Grab tidak takut jika nantinya pengguna akan berpaling ke transportasi lain karena tarif baru tersebut. Ia mengatakan, semakin banyak moda transportasi publik malah akan semakin baik. Ridzki berharap seluruh penyedia transportasi publik mau bekerja sama untuk memecahkan masalah.
"Dari Grab sudah ada trip planner, untuk merencanakan mau naik apa (moda transportasi umum). Bisa pergi dari titik ke titik. Semakin banyak pengguna, akses juga semakin banyak, sehingga bisa berguna untuk hal-hal lain," katanya.
Djoko menduga, tarif baru ojek online itu akan membuat pelanggan menimbang untuk naik angkutan umum. Masalahnya menurut dia, di daerah manajemen angkutan umum masih belum meyakinkan penumpang. Untuk itu, efek kenaikan tarif ojek online ini harus disambut daerah untuk mempersiapkan dan memperbaiki total manajemen angkutan umum.
![]()
Simalakama
Djoko juga menyoroti dan mempertanyakan dalih kenaikan tarif karena pengemudi merasa kurang sejahtera dengan tarif sebelumnya. Menurut akademisi dari Unika Soegijapranata Semarang itu, sekarang pendapatan pengemudi ojek online sudah ada di atas angka UMR.Â
Dia mengatakan, pendapatan pengemudi ojek online saat ini beda dengan tiga tahun lalu. Pada 2016, pengemudi ojek online relatif masih sedikit makanya saat itu pengemudi ojek online bisa mendapatkan Rp10 juta dalam sebulan. Namun kondisi itu makin ke sini makin menurun lantaran jumlah pengemudi terus bertambah. Meski demikian, mengutip data riset Litbang Kompas, Djoko menunjukkan, pendapatan pengemudi ojek online di DKI Jakarta saat ini rata-rata mencapai Rp4,1 juta masih di atas angka UMR DKI Jakarta yang ditetapkan Rp3,5 juta.Â
Angka tidak jauh dari riset  Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menunjukkan hal yang sama.Â
Wakil Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Paksi Walandouw, penelitian mereka yang melibatkan 6.732 responden dengan rincian Go-Ride 3.886 mitra di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Medan.Â