Siapa Berani Jadi Oposisi Jokowi
- VIVA/ Bayu Januar.
VIVA - Raut muka Jokowi dan Ma'ruf Amin pada Minggu, 30 Juni 2019, terlihat tenang. Tapi, beberapa kali, senyum menghiasi wajah kedua tokoh tersebut. Kompak mengenakan baju berwarna putih, keduanya berangkat dari Istana Merdeka ke Gedung Komisi Pemilihan Umum di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada siang hari tersebut.
Setelah berbulan-bulan menjalani kompetisi yang keras dan brutal, setidaknya dilihat dari banyaknya berita hoax dan maraknya isu makar, KPU akhirnya menetapkan Jokowi-Ma'ruf sebagai presiden dan wakil presiden terpilih. Penetapan tersebut dilakukan menyusul keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak gugatan pesaing mereka, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno beberapa hari sebelumnya. Jokowi pun resmi menjadi presiden lagi untuk masa jabatan yang kedua.
Baca: Sah, Jokowi dan Maruf Amin Ditetapkan Presiden dan Wapres Terpilih
Dari sisi kekuatan politik di parlemen, Jokowi yang ditopang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Nasdem, dan Partai Persatuan Pembangunan, sudah cukup dominan. Namun, tampaknya pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 itu, punya kecenderungan untuk mengajak kubu kompetitornya untuk masuk dalam pemerintahannya.
![]()
Hal itu terlihat dalam pidato setelah penetapan. Jokowi menyuarakan suatu rekonsiliasi. Bahkan sebelum berangkat ke KPU, dia juga sudah menegaskan bahwa tidak ada lagi 01 dan 02, karena yang ada adalah persatuan Indonesia. Begitu juga Ma'ruf Amin yang berharap semua warga kembali rukun dan saling menyapa.
"Kami menyadari bahwa Indonesia negara besar. Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan satu orang, dua orang, atau sekelompok orang. Karena itu, saya mengajak Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandiaga Uno, untuk bersama-sama membangun negara ini," kata Jokowi.
Ia yakin Prabowo dan Sandiaga adalah dua tokoh patriot yang ingin Indonesia menjadi negara yang makin kuat, maju, adil, dan makmur.
Sebenarnya, isu rekonsiliasi sudah begitu mengemuka sebelum penetapan Jokowi-Ma'ruf oleh KPU tersebut. Sejumlah pihak juga mendorong agar Jokowi dan Prabowo bertemu untuk mendinginkan suasana.
Kubu Jokowi, melalui Tim Kampanye Nasional (TKN) mereka juga membuka diri untuk partai-partai pendukung Prabowo-Sandi agar bergabung ke pemerintahan. Dan, seolah tidak malu-malu lagi, partai seperti Demokrat juga dari awal setelah pelaksanaan Pilpres 2019, lewat Komandan Satuan Tugas Bersama mereka, Agus Harimurti Yudhoyono, terlihat rajin menemui Jokowi.