Senjata Baru KPPU Jerat Honda-Yamaha
- Blogotive.com
Dari pabrikan “geng hijau” Kawasaki, Direktur Marketing PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), Toshio Kuwata, menyatakan mereknya tak ikut andil dalam euforia skutik yang terus digandrungi di Tanah Air. Meski peluang cukup besar dengan nama merek yang dikenal, mereka menyatakan akan fokus pada produksi motor-motor bermesin seperempat liter ke atas.
Kata Toshio, Kawasaki pernah menjual sepeda motor jenis skuter matik, yakni J125 dan J300. Namun, keduanya merupakan produksi Kymco dan tidak dipasarkan di Indonesia, melainkan di Eropa. Direktur Kawasaki, Marzal Tirtadirdja, menambahkan, pihaknya tak yakin Yamaha dan Honda menjalin kerja sama dalam menetapkan harga jual skutik 110-125cc di Indonesia. "Saya memandang itu persaingan. Saya tidak pernah melihat indikasi bahwa mereka melakukan kartel," kata Marzal.
Selanjutnya>>>Makin yakin kartel
Makin yakin kartel
Meski banyak pabrikan yang dihadirkan mulai dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) hingga asosiasi membela Honda dan Yamaha, namun KPPU berkeyakinan aroma kartel dua merek asal Jepang itu justru makin kuat.
Anggota tim investigasi KPPU, Helmi Nurjamil, menyatakan, pihaknya semakin yakin adanya praktik kartel dalam menentukan harga skutik 110-125cc yang dilakukan Yamaha dan Honda. Salah satu acuan yang menjadikannya yakin, menyusul kesaksian Suzuki dalam persidangan. Mereka yang setara dengan Honda dan Yamaha tak menaikkan harga skutiknya tiga kali pada 2014.
"Kita tahu upah itu sama di Indonesia, dan dia (Suzuki) materialnya 90 persen lokal. Seharusnya hal itu tidak jauh beda dengan pesaingnya, katakan market leader," kata Helmi.
Dia meyakini, memang ada persekongkolan antara Yamaha dan Honda dalam menentukan harga jual skutik di Tanah Air. Karena dari persidangan Suzuki, ketika komponen motor naik dan ada perubahan mata uang tak otomatis menaikkan harga motor.
"Kalau misalkan naik, naiknya bisa sendiri. Seperti Kawasaki sendiri, Suzuki sendiri. Kalau naiknya bareng kan terjawab sekali dan independen. Nah itu semakin menguatkan kita," ujarnya menambahkan.
![]()
Helmi pun menampik jika kebijakan menaikkan harga jual yang dilakukan Yamaha dan Honda lantaran alasan faktor eksternal di pasar otomotif, seperti melambungnya harga besi logam. Sehingga perlu menaikkan harga sebanyak lebih dari dua kali dalam satu tahun.