Kerak Telor, Warisan Kuliner Nusantara Khas Betawi
- VIVAnews/Fernando Randy
“Terkadang kalau sedang ramai pembeli, saya bisa mengantongi hingga 500 ribu rupiah. Itu pun dengan waktu yang tidak terlalu lama. Mungkin sekitar 6 jam saja,” ujar Jay, sapaan akrabnya. Sebelum dia berjualan kerak telor, kakak kandungnyalah yang terlebih dahulu berdagang kerak telor. Lama-kelamaan usia kakaknya mulai menua dan tidak sanggup lagi. Akhirnya dia berinisiatif untuk meneruskan usaha turun temurun ini.
Entah kenapa kerak telor sudah menjadi bagian hidupnya. Selain untuk mencari nafkah, dia juga menemukan perasaan bangga saat berjualan. Karena walau sedang ada acara besar pun terkadang pedagang kerak telor tetap bisa dihitung dengan jari. “Tidak seperti dulu sekitar tahun 90-an, yang berdagang masih banyak. Kalau sekarang sudah sepi pedagangnya,” ujarnya.
Dia ingin warisan kuliner Betawi tetap ada yang meneruskan. Apalagi di umur dia yang sudah tidak muda lagi, sekitar 46 tahun. Dia selalu berharap kerak telor ini tidak hilang ditelan zaman. Semoga generasi muda Betawi juga ikut ambil bagian dalam pelestarian kuliner ini.
Setu Babakan juga ikut ambil bagian dalam pelestarian kebudayaan dan kuliner asli Jakarta. Semua pedagang makanan khas ini dikumpulkan dan disatukan di sana untuk berjualan dan melestarikan kuliner Jakarta. Tak hanya kerak telor, terdapat juga pedagang bir pletok, selendang mayang, cendol betawi, dan masih banyak juga pedagang makanan dan minuman khas betawi di sana.
“Saya senang ternyata lewat Setu Babakan makanan asli Jakarta tidak akan hilang tergerus zaman. Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin tak terlupakan juga makanan kami. Dan semakin banyak orang yang kenal kerak telor khas Betawi,” tutup Jayadi. (Tulisan ini dikirim oleh Nicodimus Novianto, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)