Kaleng Kosong Itu Kado Spesial untuk Ibuku

Ilustrasi hadiah/kado
Sumber :
  • Pixabay/Freeimages9

Sulastri sangat menyesal karena tak bisa mendidik buah hatinya dengan kasih sayang yang diharapkan Ravid. Padahal selama ini Sulastri rasa sudah memberikan kasih sayang yang dipikirnya cukup. Kalau tidak, untuk siapa lagi dia membanting tulang jika bukan demi anaknya. Pihak negara sebenarnya meluluskannya, karena nilai ujian nasionalnya memuaskan mata. Tapi pihak sekolah tak meluluskannya lantaran perilakunya tidak baik dan sangat tercela. Terpaksa dia harus mengulang setahun lagi di SMK, baru ijazah akan diberikan tahun depan.

img_title Kisah Penjual Cilok dan Rumahnya yang Nyaris Hancur

"Kamu ini sudah dewasa. Sudah tujuh belas tahun! Seharusnya kamu mengerti mengapa Ibu seperti itu!!!" Sulastri kembali menggoncang-goncangkan tubuh Ravid. "Ibu, tapi selama SMP aku belum cukup dewasa untuk memikirkan itu! Aku masih seperti anak kecil yang ingin juga dikasihi seperti anak lain. Apa aku salah kalau aku menuntut hal itu?" ujar Ravid. "SMP itu kamu sudah dewasa! Ibu tidak menyangka kalau ternyata kamu malah sebodoh ini. Ibu tak mengira di balik nilai-nilaimu yang memuaskan mata, jiwamu malah tak terurus sama sekali," kata Sulastri penuh kekecewaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ravid berpaling melangkah menuju kamarnya yang sederhana. Di sana ia membanting tubuhnya di atas kasur tua. Matanya menatap lurus ke langit-langit yang mengusam. Penyesalan berkecamuk di dalam dada. Selama ini, dia selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Sulastri. Tapi ego jiwanya yang miskin akan kasih sayang selalu membuatnya marah dan mudah emosi kepada sesama.

img_title Cinta dan Cemburu

Dalam diam Sulastri mengikuti langkahnya. "Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bisa mengurusmu dengan baik. Ibu hanya bisa memberimu makan dan mengajarimu belajar, itu saja seminggu sekali di hari Minggu. Bahkan, Ibu selalu memintamu memasak sendiri. Maafkan Ibu ,Nak. Ibu memang pengecut!" kata Sulastri yang berdiri di mulut pintu dengan genangan airmata.

Ravid pun bangun dari pembaringannya, ia menghampiri tubuh Sulastri dengan penuh penyesalan. Semenjak kepergian ayahnya dia menjadi anak yang brutal dan suka keluyuran. Dia hanya akan pulang saat jam kerja Sulastri usai. Batin Ravid terpukul palu teramat pahit. Ayahnya adalah penopang langkahnya yang sangat berharga. Hanya beliau pula yang membuat Ravid tersenyum dan selalu bersemangat menjalani hidupnya. Dia selalu berusaha agar nilai akademi dan non akademi di sekolahnya sempurna. Tentunya demi sang ayah. Tapi, pukulan godam yang tak diinginkan menghajarnya. Malaikat maut telah merenggut nyawa ayahnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut