Semoga Pilkada Menggembirakan, Boleh Juga Lucu
- VIVA/Muhamad Solihin
Artinya sejak awal memang sudah memutuskan untuk melakukan yang terbaik?
Iya, saya kira itu kalimat yang baik. Pesan bapak dan ibu saya seperti itu. Ibu saya selalu memberi pesan, “Le, namanya amanah itu harus dikerjakan dengan baik,” itu saja. “Karena negara itu juga sudah ngurusi kamu itu dengan baik, jangan mimpi yang aneh-aneh,” itu pesan orangtua saya yang selalu saya bawa.
Seberapa besar keyakinan Anda untuk kembali memenangkan Pilkada Jawa Tengah?
Hanya satu kata saja, bismillah..
Apapun risikonya?
Oh, tentu saja. Namanya pilkada selalu bicara bagaimana nanti elektoral suara, berapa suara yang ada. Kalau kita bisa bicara apa yang bisa dikerjakan, sektor apa, bagaimana kondisinya, diskursus di masing-masing isu itu seperti apa. Karena buat saya kita ceritakan ulang apa yang ada agar publik bisa yakin soal itu. Sehingga mereka punya referensi untuk memilih. Kalau membayangkan, itu sulit. Kalau ada bukti yang kemudian kita jadikan contoh untuk mereka lihat secara visual ada datanya, maka tak sulit membayangkannya.
![]()
Jawa Tengah dikenal sebagai ‘Kandang Banteng’. Apakah itu yang membuat Anda optimis?
Untuk memenangkan sebuah kontes pilkada, ada tiga kekuatan. Pertama, siapa yang mengusung dan pendukung, umpamanya kekuatan partai politik atau individu perorangan. Kalau dari perorangan, berapa kelompok individu yang mendukung, dan kalau partai politik, berapa partainya, berapa relawannya. Kedua, aktornya. Aktornya itu cukup marketable, saleable atau tidak? Itu yang pasti diperhitungkan. Ketiga, logistik.
Nah, dari tiga ini, kalau kita lihat dukungan partai, mungkin sama lah dengan kandidat yang lain, kita sama-sama didukung dengan partai yang jumlah partainya juga sama. Tapi dari sisi suaranya kita sedikit lebih dari kandidat lain. Kemudian, dari sisi kandidasi personal, karena saya incumbent (petahana), mungkin popularitas saya lebih tinggi. Lalu logistik. Logistik pertempuran itu tentu dari struktur yang kita miliki, apa yang harus kita persiapkan. Jadi ketiga itu yang disiapkan.
Nah, optimisme dibangun ketika ketiga hal ini bisa bekerja. Satu saja berkurang, maka dua yang lain harus menggenapi. Dua berkurang, maka satu yang lain harus dominan. Kalau ketiga itu tidak ada, biasanya kalah.