Semoga Pilkada Menggembirakan, Boleh Juga Lucu
- VIVA/Muhamad Solihin
Kompetitor Anda akan mengubah persepsi bahwa Jawa Tengah ini ‘Kandang Banteng’?
Sebagai sebuah cita-cita tentu itu boleh-boleh saja. Hanya cita-cita kan ada yang berhasil, ada yang tidak. Kalau saya tanya teman-teman di PDI Perjuangan Jawa Tengah, saya selalu tanyakan, kalau kamu mendengar statement seperti itu kamu akan diam atau kamu akan bertahan? Jawab mereka, kami akan bertahan sekuat tenaga, kami akan konsolidasikan seluruh kekuatan, kami akan tegak lurus pada putusan partai. Wah itu biasanya kalau sudah begitu, solid. PDI Perjuangan itu dalam beberapa ujian sudah teruji, kita lumayan solid soal itu.
Apa latar belakang Anda memilih Gus Yasin menjadi pendamping?
Sedikit saya luruskan. Sering kali proses kandidasi itu seolah-olah hubungan personal individu. Nah tentu agak berbeda sedikit apa yang terjadi dengan tradisi kami. Saya ini petugas partai, kalau saya tidak diusung partai, tidak mungkin saya bisa maju. Karena saya tidak bisa maju perorangan. Maka sebenarnya, dominasi partai untuk menentukan pilihan itu lumayan tinggi. Apakah saya maju lagi, atau tidak maju lagi, saya berdampingan dengan siapa.
Ternyata partai mendapatkan masukan dari para ulama di Jakarta, Jawa Tengah. Untuk Jawa Tengah yang bentengnya Pancasila, Jawa Tengah yang plural, sebaiknya pemimpinnya adalah reperesentasi dari banyak kelompok. Itu yang terjadi. Sehingga sebenarnya orang tua-orang tua kita yang ketemu. Kalau ada yang mengatakan ini semacam perkawinan Siti Nurbaya? Ya iya. Tapi kalau saya tanya sama Gus Yasin, beliau jawab, mboten mas, ini tradisi pondok. Tradisi pondok itu kan dijodohkan begitu. Nah, kebetulan proses penjodohan saya tidak pilih Gus Yasin, pilihan saya dulu sebenarnya tidak di Gus Yasin, kita bicara dengan yang lain.
Tapi karena tidak deal ya sudah. Tapi menguat pada saat itu para ulama menyampaikan, sebaiknya saya berpasangan bersama Nahdiyin. Nah itu lah, Nahdiyin itu keyword yang kita pakai. Karena waktunya sudah makin dekat, akhirnya dari Nahdiyin muncul nama-nama, dan salah satunya adalah Gus Yasin. Saat diumumkan, para sesepuh mengatakan cocok. Lalu saya ditanya, Ganjar kamu gimana? Lah wong saya sudah kenal kok. Dia anggota DPRD, karir politiknya bagus, dia ketua partai, dan dengan bapaknya Mbah Maemun Zubair, saya kenal beliau, dan jauh saya lebih kenal dekat dengan beliau.