Semoga Pilkada Menggembirakan, Boleh Juga Lucu
- VIVA/Muhamad Solihin
Sama persis sih tidak, tapi yang ramai di medsos iya. Kalau di dunia riil sih tidak. Medsos ini borderless. Medsos ini dioprek dari mana pun tampilannya sama. Mungkin satu dua kalau saya melihat polanya ada, tetapi tidak seperti di Jakarta banget lah. Karena kultur masyarakat Jawa Tengah relatif berbeda. Lebih toleran, lebih warna-warni kebhinekaannya sehingga tidak gampang ditiup-tiup seperti itu. Dan ulama-ulama besar di Jawa Tengah juga selalu bicara NKRI Harga Mati, mereka juga bicara Pancasila, seperti Habib Lutfi (Pekalongan), Habib Syekh (Solo). Kalau kita salawatan, mereka bukan hanya menyanyikan lagu Yalal Wathon saja, tapi juga Indonesia Raya, pasti itu. Jadi spirit ini yang dijaga terus menerus. Saya yakin para ulama di Jawa Tengah akan menjaga itu.
Artinya Anda meyakini bahwa isu politik identitas tidak terlalu cocok dimainkan di Jawa Tengah?
Saya kira masyarakat Jawa Tengah mempunyai rasionalitas yang bagus ya. Mereka sudah terbiasa dengan kebersamaan, lah wong di kampung itu mereka bareng-bareng kok. Sehingga kalau mau dibelah seperti itu, mereka akan mikir, lha kok kayak gini sih kampanye itu, kultur kita engga begini kok. Meskipun tentu satu dua tetap ada yang memainkan itu, tapi biasanya ya akun anonim. Mereka memfitnah, biasanya seperti itu. Tapi, biasanya komentar para netizen juga lebih rasional kok, mereka biasanya komentarnya “gak mempan, gak berlaku di Jawa Tengah,” gitu palingan. Jadi menurut saya sih, saya masih menikmati, masih oke lah.
Anda menyatakan menjadi petugas partai. Anda tidak takut dibully seperti Presiden Jokowi?
Hehehe.. Tunjukkan ke saya, bagaimana mungkin demokrasi itu tanpa partai politik? Kalau kader itu ditugaskan, kan berarti dia petugas toh? Kita memang ditugaskan partai kok kita takut dibully sih?
Indonesia berdemokrasi itu sistemnya kepartaian. Lha, kok gak mau mengakui partai, itu gimana? Jadi menurut saya, ya memang saya petugas partai, masa saya takut dibully? Ketika ditakutkan itu kan bukti bahwa dia itu mempunyai asumsi, kecurigaan, oh nanti kamu kalau sudah jadi akan memikirkan partai mu sendiri, gak mikirin rakyat.