Dubes Rusia: AS Sudah Gagal Berantas ISIS

Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Santi Dewi

Tentu, sejak awal kasus ini muncul, sudah dipolitisasi. Ingat saja, apa yang dituntut oleh para pejabat dari negara barat ketika pesawat itu jatuh pada Juli 2014. Mereka langsung berkoar-koar bahwa itu merupakan perbuatan Pemerintah Rusia atau kelompok pemberontak yang kami dukung. Padahal, saat itu mereka tidak memiliki bukti.

img_title Bom Beruntun Meledak di Mesir, 7 Tewas

Sebagai contoh, mereka menunjukkan adanya pergerakan peluncur rudal BUK dari Republik Donetsk. Namun, pada faktanya video itu diambil pada bulan Mei 2014 dari area yang dikuasai oleh militer Ukraina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data-data itu merupakan kebohongan, karena mereka ingin menghukum Rusia. Alasannya, karena negara-negara barat tidak menyukai kebijakan Rusia yang independen. Selain itu, kami tidak mengikuti kebijakan negara-negara barat yang kerap meragukan. Kami memahami negara-negara barat tidak akan pernah meminta maaf kepada kami. 

img_title Tak Ada WNI Jadi Korban dalam Serangan Udara di Suriah

Bagaimana cara Rusia meyakinkan dunia, bahwa negara Anda tidak terlibat dalam jatuhnya Malaysia Airlines MH17?

Kami tidak perlu meyakinkan dunia mengenai hal ini. Tolong jangan letakan tanda baca koma mengenai "dunia" dan "barat". Dunia jauh  lebih besar dari negara barat.

img_title Peshmerga, Unit Tempur Perempuan Kurdi Penumpas ISIS

Kami tidak perlu meyakinkan siapa pun dan membersihkan apa pun. Justru, negara-negara barat lah yang perlu melakukan hal itu, sebab mereka sudah banyak berbohong mengenai Rusia.

Rusia-RI Tetap Erat

Menurut Anda, bagaimana hubungan bilateral kedua negara di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo?

Pada tanggal 20 Oktober merupakan satu tahun Beliau memimpin Indonesia. Selama satu tahun kepemimpinannya, kami telah melakukan banyak hal untuk mempromosikan dan meningkatkan hubungan kedua negara.

Pertama, kami meluncurkan dialog kemitraan tingkat tinggi di antara pejabat kedua negara. Saya juga harus menggarisbawahi pentingnya pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Putin di sela pertemuan APEC tahun lalu di Beijing.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kami juga harus menyebut adanya komunikasi yang baik antara dua Menteri Luar Negeri ketika mereka bertemu di sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur. Tetapi, mereka bertemu kembali secara singkat di New York.

Kami juga memiliki dialog ekonomi yang diselenggarakan bulan April lalu di Kazan. Sebelumnya juga ada dialog di antara tingkat parlemen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut