Dubes Rusia: AS Sudah Gagal Berantas ISIS
- VIVA.co.id/Santi Dewi
Tetapi mengapa baru sekarang Rusia terlibat dalam serangan udara ini? Bukan kah momentum untuk memberantas ISIS sudah dimulai sejak tahun lalu?
Saya tidak sepakat mengenai hal itu. Momentum bahkan sudah terjadi sejak 20 tahun lalu, tepatnya di tahun 1990an di wilayah Rusia sendiri. Satu kelompok teroris memproklamirkan dirinya sebagai kalifah dan menguasai beberapa area di Rusia. Saat itu kami disebut memberantas teroris skala nasional.Â
Tetapi apa yang dilakukan oleh negara mitra kami dari barat? Mereka malah menyebut kelompok teroris itu sebagai pemberontak yang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan. Saya yakin jika masyarakat internasional bersatu dan memiliki tujuan yang sama ketika itu untuk menghancurkan teroris, maka tidak ada situasi seperti saat ini di Suriah.
Sayangnya saat itu, negara-negara barat tidak mendukung kebijakan Rusia. Kalau pun ingin membantu, sudah terlambat.
Kini, kita kembali mendengar slogan yang sama dan didengungkan oleh kelompok ISIS. Mereka ingin membangun kekhalifan dari Portugal hingga ke Pakistan, melawan warga non Muslim, penghancuran terhadap warisan budaya, dan masih banyak lagi. Jadi, kita melihat lebih banyak lagi tindakan di luar kemanusiaan.
Kemudian mengenai pertanyaan mengapa Rusia tidak ikut bergabung dalam koalisi militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat tahun lalu, jawabannya bukan hanya sekedar tidak diundang untuk ikut bergabung, melainkan terkait isu fundamental yakni mereka tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Koalisi itu memang telah mengantongi izin dari Pemerintah Irak sebelum melakukan kampanya serangan udara, tetapi Pemerintah Suriah tidak meminta bantuan kepada mereka dan tidak didukung pula oleh Resolusi PBB. Maka serangan udara itu dianggap ilegal dan kami tidak ingin ikut terlibat.
Sedangkan keterlibatan Rusia di Suriah saat ini berbeda, karena kami telah mengantongi izin. Selain itu pengaruh ISIS di wilayah Suriah semakin kuat dan mengancam kepentingan keamanan Rusia.Â
Bagaimana komentar Pemerintah Rusia mengenai pernyataan yang menyebut tujuan utama serangan ke Suriah bukan untuk menghancurkan ISIS, melainkan untuk melanggengkan kekuasaan Presiden Bashar al-Assad?