Membangun Negeri Ini Tidak Bisa Hanya Satu Partai
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Insya Allah dari sisi struktur sih sudah selesai, tentu yang berikutnya yang harus kami genjot lagi adalah menyamakan visi karena kita di Munas sudah punya Visi dan arah atau guidance ke depan. Ini kan tidak serta merta bisa dipahami oleh struktur di bawah dan juga oleh kader. Karena itu dalam enam bulan ini kita akan mencoba menyamakan persepsi agar kader bisa benar-benar memahami arah ke depan ini seperti apa.
Dulu Wasekjen itu banyak, sekarang jadi berkurang. Kebetulan orang-orang yang sebelumnya di posisi itu dikenal sebagai public figure, sehingga ketika mereka tidak lagi berada dalam struktur muncul isu pembersihan orang-orang lama?
Ya saya kira kalau isu pembersihan itu mah di wartawan saja ya. Itu mah wartawan yang bikin. Kata wartawan ini konon, kata ini konon, ternyata sesama wartawan yang konon-konon. Jadi begini saya ingin jelaskan terkait dengan masalah wasekjen, kami kepengurusan sekarang, itu punya filosofi bahwa yang namanya Sekretariat Jenderal itu adalah pihak yang mengurus Rumah Tangga Partai. Adapun yang keluar itu adalah presiden plus bidang dan badan. Karena merekalah yang sangat paham tentang bidang badan itu.
Tentang ekonomi ya bidang badan Ekuintek, tentang hukum ada Polhukam, kemudian tentang pendidikan ada Kesra, mereka yang bicara keluar. Karena itu kesekretariatan Jenderal itu tidak perlu banyak, dia cukup ada Sekjen, karena Sekjen membantu presiden untuk juga ada aspek keluarnya. Sekjen inilah yang mengelola itu. Dengan kepengurusan yang lalu memang berbeda.
Dulu filosofi yang saya tahu di kepengurusan yang lama, itu wasekjen itu punya peran ke eksternal sehingga dibuat banyak. Itu tentu saja hak setiap kepemimpinan. Cuma kami punya evaluasi, kalau begitu di bidang badan justru tidak punya fungsi keluar. Ini kan persoalan mau pakai filosofi yang mana.
Nah saya dan kepengurusan di DPP punya filosofi seperti itu. Jadi tidak ada urusannya dengan tidak pakai orang dan sebagainya, kalau di dalam Ilmu manajeman itu kan ada yang namanya Structure Follow Function, fungsi itu adalah arah. Dengan folosofi seperti itu, berarti strukturnya ngikutin itu. Jadi structure follow function, maka strukturnya jadi seperti ini. Baru setelah itu, person follow structure, karena strukturnya seperti ini, orang-orang seperti apa yang bisa ditempatkan. Jadi ini sebetulnya ada filosofinya yang bisa diterapkan.
Soal pendanaan, kepengurusan sekarang rajin menarik dari kader sendiri, misalnya saat Munas ada Galibu (Gerakan Lima Puluh Ribu), apa itu cukup untuk membiayai operasional partai dengan target menang Pemilu 2019?
Sebetulnya pada dasarnya yang pertama ingin sekali bahwa kita ini bisa menggerakkan organisasi, to some extend, pada batas tertentu, ada pada situasi kemandirian, itu kata kuncinya. Artinya tidak terlalu banyak tergantung kepada pihak-pihak di luar organisasi. Untuk itu kami kemudian mencoba menjabarkannya, saya katakan kepada pengurus yang pertama harus kita lakukan efisiensi, karena kita mengelola partai ini supaya lebih efisien, kalau lebih efisien, tuntutan pendanaannya mudah-mudahan bisa lebih rendah dari yang dibayangkan selama ini.
Yang kedua kita optimalkan dulu peran atau kontribusi dari kader, ini kita coba. Ini kita belum mendapatkan gambaran real, sebetulnya kemampuan kader untuk menopang organisasi seperti apa. Kemarin kami coba lempar ke Munas, coba lempar ke kader, alhamdulilah kader bisa memenuhi lebih dari 60 persen dari kebutuhan Munas kita kemaren, ini juga satu hal yang membuat kami lebih optimis.
Yang ketiga kami juga ingin kepada kader-kader yang ada di PKS sendiri, yang mereka punya bisnis, kita juga ingin mereka berkontribusi lebih besar kader pada umumnya. Nah ini tentu kami akan gali. PKS tentu tidak punya pengusaha besar-besar ya, tapi siapa tahu lah, kalau cuman nyumbang sepeser dua peser tapi kalau jumlahnya banyak mudah-mudahan bisa tercukupi.
Yang keempat adalah tidak menutup dengan adanya partisipasi publik untuk membiayai partai kami. Justru di sinilah kami ingin, dengan semakin meningkatnya partisipasi publik terhadap pembiayaan partai, itu kami justru juga terdorong untuk semakin transparan dan akuntabel.
Saya kira sebuah partai politik semakin transparan dan akuntabel itu semakin baik. Karena itu keterlibatan publik dalam pengelolaan partai kami ini juga akan kami gali. Jadi tidak benar kalau PKS menutup dari partisipasi publik yang kecil maupun publik yang besar, selama mengikuti peraturan perundang-undangan. Ini harus dicamkan ya, karena nanti dikiranya kami hanya menutup diri, kami juga sadar dengan yang empat itu, efisiensi dari kader, kalau bisa punya bisnis, dan yang keempat dari partisipasi publik.