Ketua AISI Gunadi Sindhuwinata

Indonesia Raja Ketiga Sepeda Motor di Dunia

Ketua AISI Gunadi Shinduwinata.
Sumber :
  • Rendra Saputra/VIVA

VIVA.co.id – Kendaraan roda dua belakangan menjadi alat transportasi favorit di Tanah Air. Populasinya terus membengkak dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena mudahnya masyarakat untuk memiliki sepeda motor dengan berbagai program kemudahan yang ditawarkan pabrikan maupun perusahaan pembiayaan.

img_title Rapor Penjualan Sepeda Motor Sepanjang 2017, Gagal Target

Namun, siapa sangka, di balik populasinya yang terus meningkat, angka penjualan sepeda motor di Tanah Air rupanya kini tengah melempem. Berbagai faktor ditengarai menjadi penyebab turunnya penjualan kendaraan roda dua di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diprediksi, tahun ini pasar roda dua masih stagnan, atau bisa juga dibilang bakal jalan di tempat. Beragam jurus jitu tentu wajib dipersiapkan sebagai “peluru panas” untuk mendongkrak penjualan yang biarpet.

img_title AISI Prediksi Penjualan Sepeda Motor Masih 'Melempem'

VIVA.co.id berkesempatan mewawancarai Ketua Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), Gunadi Sindhuwinata, untuk mengetahui apa yang tengah digodok asosiasi guna melahirkan terobosan baru di tengah pasar yang lesu.

Poin utama adalah penguatan ekspor sepeda motor Indonesia ke negara-negara maju. Saat ini, negara maju diketahui tengah demam sepeda motor dengan kapasitas kecil. Situasi ini akan menjadi ceruk potensial bagi Indonesia untuk mendulang kesempatan.

img_title Johannes Loman Resmi Jadi Ketua AISI

Gunadi juga sempat menyinggung seputar dampak dari “meledaknya” sepeda motor di Indonesia. Saat ini, angka kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor memang cukup besar. Yang mencengangkan, sekira 40 persen korban kecelakaan tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan otomotif roda dua saat ini di Tanah Air?

Kalau dilihat perkembangan dua tahun ini, memang pasar saat ini sedang berhenti berkembang. Angkanya cuma 6,48 juta unit (2015), di mana sebelumnya 6,7 juta unit (2014). Kondisi ini karena terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi yang boleh dikatakan tidak begitu tinggi, daya beli pun jadinya tidak terdongkrak. Tapi kalau melihat kebutuhan, masih besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, penjualan kita lihat, didukung oleh kegiatan aplikasi, termasuk Uber dan sebagainya. Ini kan menarik sekali. Mereka masuk investasi sendiri, masuk ke dalam jaringan aplikasi, bisa masuk income sendiri. Meski demikian, bukan berarti kita tanpa peningkatan.

Kapan pasar kembali bergairah?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut